Defisit ini dinilai masih belum cukup untuk mengimbangi ekspor yang lesu, demikian seperti dikutip dalam sebuah data resmi yang dikeluarkan Pemerintah Jepang.
AFP melansir, Rabu (17/6/2015), ksenjangan antara impor dan ekspor sebesar 216,0 miliar yen (USD1,75 miliar) atau turun sekitar 76 persen dari defisit 917,2 miliar yen setahun sebelumnya. Nilai impor negara itu menurun 8,7 persen pada Mei, sementara ekspor naik 2,4 persen lebih lemah dari yang diperkirakan.
Namun demikian, masih ada kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi Jepang, khususnya permintaan yang lemah di luar negeri bisa menekan produksi pabrik-pabrik karena produsen mencoba untuk memotong penumpukan persediaan yang mendorong pertumbuhan dalam kuartal pertama.
"Defisit perdagangan menyempit pada Mei, tetapi akan merayap lebih tinggi dalam paruh kedua tahun ini karena pelemahan yen mendorong biaya kenaikan impor," tutur Marcel Thieliant dari Capital Economics.
Sebuah ekspansi sebesar 1,0 persen di ekonomi nomor tiga dunia itu antara Januari dan Maret, atau 3,9 persen pada basis tahunan, naik tajam dari estimasi awal untuk pertumbuhan sebesar 0,6 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News