Awal bulan ini, Trump mengindikasikan dia dapat menerapkan 25 persen bea atas impor kendaraan dan suku cadang otomotif Jepang sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi defisit perdagangan AS dengan masyarakat internasional. Langkah ini secara luas dilihat sebagai alat tawar-menawar Washington untuk mendapatkan apa yang telah lama dicari dari Tokyo.
Namun, ekonomi terbesar ketiga di dunia itu menentang kesepakatan perdagangan bilateral dan harus mencari cara lain untuk menenangkan Trump, kata para ahli strategi. Apalagi, Pemerintah Jepang tengah berupaya memacu pertumbuhan ekonomi agar lebih berkualitas sejalan dengan mitigasi risiko yang lebih baik.
"Jadi sekarang, Jepang harus menghibur beberapa akses pasar yang cukup serius atau memasuki pembicaraan perjanjian perdagangan bebas, kedua hal yang Jepang coba hindari sejak Trump menjabat," kata Wakil Presiden Teneo Intelligence Tobias Harris, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 22 September 2018.
Masalah ini diperkirakan mendominasi pertemuan Abe dengan Trump yang dijadwalkan bertemu pada 26 September di New York. Tarif dianggap merusak secara ekonomi bagi raksasa Asia karena mobil penumpang membentuk sekitar 30 persen ekspor Jepang menuju ke negara bagian.
"Ini juga secara politis memalukan bagi Abe yang telah menampilkan dirinya sebagai seseorang yang memiliki hubungan dekat dengan Trump," kata Harris.
Menurut Harris jika Trump bertindak atas ancamannya, Abe akan menemukan dirinya dalam situasi di mana ia harus membalas dengan tindakan serupa dan itu bisa menggagalkan hubungan bilateral yang lebih luas. "Situasi itu jelas sesuatu yang Abe ingin hindari," pungkas Harris.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News