Gedung The Fed (Brendan Smialowski/AFP)
Gedung The Fed (Brendan Smialowski/AFP)

Analis Perkirakan Fed Pangkas Suku Bunga Lima Kali

Ekonomi ekonomi amerika the fed
Angga Bratadharma • 24 Agustus 2019 14:03
New York: Analis di Danske Bank memperkirakan Federal Reserve bakal memangkas suku bunga acuan sebanyak lima kali lagi pada April 2020. Sebagai pembanding, the Fed telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin pada Juli 2019 dengan melihat sejumlah indikator perekonomian seperti data tenaga kerja.
 
Sedangkan Ketua the Fed Jerome Powell menjelaskan pemotongan suku bunga tersebut hanya penyesuaian di pertengahan siklus. Adapun pernyataan itu membuat pasar saham anjlok, dengan investor berharap adanya pelonggaran lebih lanjut dalam waktu dekat yakni berupa pemangkasan kembali suku bunga acuan.
 
Powell mengutip tiga alasan untuk pemotongan suku bunga. Pertama ketidakpastian perdagangan yang lebih tinggi. Kedua, pertumbuhan ekonomi global yang lebih lambat. Ketiga, tingkat inflasi yang tetap di bawah dua persen. Namun, sejak pertemuan itu, perang dagang AS-Tiongkok telah meningkat dan sentimen pasar menunjukkan kegelisahan lebih lanjut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Terlepas dari komentar Powell, Analis Danske Bank yang dipimpin oleh Mikael Olai Milhoj sekarang percaya bahwa the Fed akan segera bergerak dengan memangkas kembali suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin pada masing-masing dari lima pertemuan berikutnya. Milhoj memprediksi tingkat suku bunga acuan pada pertemuan Maret 2020 di kisaran 0,75-1,00 persen.
 
"Indikator ekonomi di luar AS lemah, dengan data Tiongkok yang lebih lemah dari perkiraan untuk investasi aset tetap, produksi industri dan penjualan ritel. Bahkan PDB Jerman kontraksi di kuartal II-2019 dan survei ZEW sangat suram," kata Danske Bank, dalam catatannya, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 24 Agustus 2019.
 
Analis Danske Bank menilai pemangkasan suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin akan berlebihan dan tidak baik terhadap psikologis pelaku pasar. Apalagi secara historis, pemotongan suku bunga acuan yang lebih besar dalam sebuah pertemuan telah terjadi selama resesi ekonomi dan efeknya meningkatnya pengangguran.
 
"The Fed mengakui bahwa prospek makro telah menjadi lebih tidak pasti tetapi masih melihat siklus pelonggaran sebagai penyesuaian pertengahan siklus dan bukan pemotongan resesi. Dalam pandangan kami, pertumbuhan AS telah memuncak dan kemungkinan akan melambat tetapi kami tidak mengharapkan resesi muncul dalam waktu dekat," kata para analis.
 
Sementara itu, Jim Cramer dari CNBC mengatakan keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menghapus beberapa item dari daftar tarif Tiongkok yang baru menandakan Trump ingin menghentikan penurunan di pasar saham. Tidak ditampik, pasar saham Wall Street sudah beberapa kali jatuh akibat kebijakan tarif yang diberlakukan AS.
 
"Saya pikir ini adalah Presiden yang mengatakan, 'Saya tidak ingin pasar saham turun lagi'," kata Cramer, menanggapi penundaan tarif baru dan pergerakan Dow Jones Industrial Average yang sempat meroket di pembukaan dan tiba-tiba turun ke lebih 400 poin atau hampir dua persen.
 
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menunda pengenaan beberapa tarif impor Tiongkok menjelang Natal. Hal itu dilakukan guna membendung dampak potensial terhadap perekonomian saat warga AS meningkatkan konsumsinya dengan berbelanja pada momen Natal.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif