Ilustrasi. Foto : AFP.
Ilustrasi. Foto : AFP.

Virus Korona Diprediksi Rugikan Tiongkok USD62 Miliar

Ekonomi virus korona tiongkok
Nia Deviyana • 02 Februari 2020 17:00
Shanghai: Media pemerintah Tiongkok dan beberapa ekonom mengatakan tingkat pertumbuhan ekonomi Tiongkok dapat turun dua persen pada kuartal ini karena epidemi tersebut. Penurunan pada skala itu bisa berarti kehilangan pertumbuhan USD62 miliar.
 
Melansir CNN International, Minggu, 2 Februari 2020, Tiongkok juga kemungkinan harus memotong pajak, meningkatkan pengeluaran, serta memangkas suku bunga untuk mencegah virus korona menyebabkan dampak lebih lanjut pada perekonomian yang sudah rapuh.
 
Para ekonom mengatakan tahun lalu sudah menjadi pertumbuhan Tiongkok yang terendah selama hampir tiga dasawarsa, yang disebabkan oleh utang dan perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Virus korona, yang pertama kali muncul di pusat kota Wuhan, Tiongkok telah menewaskan lebih dari 200 orang dan menginfeksi lebih banyak dibandingkan epidemi SARS pada 2003. Ekonom menyayangkan potensi penyakit bahaya ini tidak masuk dalam radar pemerintah Tiongkok.
 
Adapun sebelum virus ini merebak, pemerintah Tiongkok diketahui lebih khawatir dengan risiko kerusuhan karena meningkatnya jumlah pengangguran.
 
Saat ini, Beijing tengah berupaya meredakan virus ini guna memulihkan ekonominya. Hal itu terlihat dari ditugaskannya Perdana Menteri Li Keqiang untuk bertanggung jawab atas pengendalian virus.
 
Keputusan itu merupakan sinyal yang jelas bahwa menghentikan virus menjadi prioritas teratas bagi pemerintah saat ini, tulis surat kabar People's Daily, belum lama ini.
 
Sejauh ini, para pembuat kebijakan telah mengambil beberapa langkah untuk membantu bisnis yang paling terpengaruh oleh penyebaran penyakit. Pemerintah pusat dan daerah telah mengalokasikan USD12,6 miliar untuk pembelian alat dan perawatan medis.
 
Bank-bank besar telah memangkas suku bunga untuk usaha kecil dan perorangan di daerah-daerah yang paling terpukul. Sementara Bank of China kemungkinan akan melonggarkan kebijakan pada debitur di Hubei agar bisa menunda pembayaran pinjaman, terutama bagi orang yang kehilangan penghasilan akibat virus ini.
 
People's Bank of China, bank sentral negara itu, memastikan ada cukup likuiditas di pasar keuangan saat pembukaan besok Senin, 3 Februari 2020. Sebelumnya indeks Hang Seng anjlok hampir enam persen hanya dalam beberapa hari perdagangan pada pembukaan pekan ini.
 
Ekonom Tiongkok Zhang Ming menilai, pemerintah harus lebih agresif dalam beberapa bulan mendatang untuk mencegah perlambatan yang lebih serius.
 
Zhang, yang bekerja di Akademi Ilmu Sosial Tiongkok mengharapkan pertumbuhan ekonomi merosot menjadi lima persen pada kuartal pertama, dengan asumsi epidemi berlangsung hingga akhir Maret. Dia mengatakan itu sebagai skenario paling optimis, tetapi tidak bisa memberikan prediksi spesifik jika wabah berlangsung lebih lama.
 
"Pemerintah dapat memotong pajak dan meningkatkan pengeluaran untuk perawatan kesehatan publik dan pelatihan kerja," kata Zhang. Selain itu, pemerintah dapat menghabiskan lebih banyak pengeluaran pada infrastruktur.
 
Dengan meningkatkan kegiatan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja, diharapkan dapat mengimbangi lemahnya investasi swasta di sektor real estat dan manufaktur. Bank sentral juga kemungkinan akan memberikan lebih banyak pemotongan suku bunga untuk menstabilkan perekonomian.
 
Secara keseluruhan, ia mengatakan langkah-langkah itu kemungkinan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan kuartal berikutnya, dan mendorong pertumbuhan PDB tahunan menjadi sekitar 5,7 persen. Meskipun itu lebih rendah dari pertumbuhan 6,1 persen pada tahun lalu, itu tidak terlalu buruk.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif