Investor berfokus pada arahan Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda untuk mendapatkan petunjuk tentang bagaimana meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tanda-tanda ketegangan pasar obligasi dapat memengaruhi kebijakan masa depan.
Dalam sebuah langkah yang diharapkan secara luas, BoJ telah mempertahankan target suku bunganya di minus 0,1 persen dan target imbal hasil 10 tahun sekitar nol persen di bawah kebijakan yang dijuluki kurva imbal hasil (YCC).
"Perekonomian Jepang berkembang moderat, sementara ekonomi luar negeri terus tumbuh secara mantap secara keseluruhan," kata BoJ, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 22 Desember 2018.
BoJ berada dalam posisi dilema. Bertahun-tahun pencetakan uang yang berat memberikan sedikit amunisi untuk Jepang melawan resesi. Serta perlambatan ekonomi global merampas bank sentral dari setiap peluang kebijaka jangka pendeknya.
Bahkan mempertahankan stimulus saat ini terbukti mahal karena tingkat ultra-rendah membebani laba bank regional dan pembeliannya yang besar mengeringkan likuiditas pasar obligasi. Tentu kondisi semacam ini menyulitkan untuk lembaga jasa keuangan memaksimalkan pertumbuhan bisnisnya.
"BoJ sedang terjebak di antara kebutuhan untuk mengatasi efek samping dari stimulusnya, dan prospek perlambatan global, serta perang perdagangan. Dengan demikian, mungkin tidak dapat bergerak ke arah mana pun tahun depan," kata Ekonom Senior BNP Paribas Securities Hiroshi Shiraishi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News