Erdogan: AS Melancarkan 'Perang Ekonomi' Melawan Turki
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Dok:AFP.
Istanbul: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu waktu setempat (Minggu WIB) menyalahkan anjloknya ekonomi Turki kepada Amerika Serikat dan negara-negara lain yang ia klaim sedang melancarkan 'perang' terhadap Turki. Tidak ditampik, sekarang ini mata uang lira dan ekonomi Turki sedang tertekan cukup dalam.

"Dolar Amerika Serikat (USD), euro, dan emas sekarang merupakan peluru, meriam, dan rudal perang ekonomi yang dilancarkan terhadap negara kita," tegas Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, di provinsi timur laut Rize, seperti dilansir dari CNBC, Minggu, 12 Agustus 2018.

Erdogan berjanji kepada para pendukungnya bahwa Pemerintah Turki siap mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk melindungi ekonominya. Akan tetapi, ia menambahkan, hal yang paling penting dilakukan sekarang adalah menghancurkan tangan-tangan yang menembakkan senjata-senjata tersebut.

Turki dihantam oleh gelombang besar dari sisi keuangan pekan ini karena mata uangnya menukik tajam akibat kekhawatiran tentang kebijakan ekonomi pemerintah dan sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat. Kondisi tersebut tidak ditampik memberikan efek cukup besar terhadap tertekannya aktivitas perekonomian.

Lira jatuh 14 persen pada Jumat waktu setempat, menjadi 6,51 per USD, sebuah langkah besar untuk mata uang yang akan membuat penduduk Turki lebih miskin dan semakin mengikis kepercayaan investor internasional di negara itu. Penurunan mata uang sangat menyakitkan bagi Turki karena ia membiayai banyak pertumbuhan ekonominya dengan uang asing.

Penurunan mata uang -41 persen sejauh ini pada 2018- adalah ukuran ketakutan atas sebuah negara yang datang untuk berdamai dengan utang tinggi bertahun-tahun, perhatian internasional atas dorongan Erdogan untuk mengumpulkan kekuatan, dan memburuknya hubungan dengan sekutu seperti AS.

Dalam sebuah opini yang dipublikasikan di The New York Times pada Jumat, Erdogan mengkritik AS dengan mengatakan kegagalan untuk membalikkan tren unilateralisme dan sikap tidak hormat ini akan mengharuskan Turki untuk mulai mencari teman-teman dan sekutu baru.

Di antara sejumlah isu yang ada, Turki telah menangkap seorang pendeta Amerika Serikat dan mengadilinya atas tuduhan spionase atau penyelidikan secara rahasia terhadap data kemiliteran dan data ekonomi Turki serta teror terkait dengan upaya kudeta yang gagal di negara itu dua tahun lalu. Namun pendeta tersebut menyatakan bahwa dia tidak bersalah.

AS menanggapi persoalan tersebut dengan mengenakan sanksi terhadap Turki dan mengancam lebih banyak lagi. Kedua belah pihak mengadakan pembicaraan di Washington pekan ini tetapi gagal menyelesaikan pertikaian itu.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump dalam cuitannya menjelaskan bahwa ia telah mengesahkan penggandaan tarif baja dan aluminium di Turki. Dia mengatakan, tarif impor aluminium akan meningkat menjadi 20 persen dan tarif baja menjadi 50 persen dengan lira Turki meluncur turun dengan cepat terhadap USD yang sangat kuat.

"Hubungan kita dengan Turki tidak bagus saat ini!," kata Trump dalam cuitannya. Adapun Amerika Serikat adalah tujuan terbesar untuk ekspor baja Turki, dengan sebanyak 11 persen merupakan volume ekspor Turki. Lira jatuh lebih jauh setelah tweet Trump.

 



(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id