Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Pasar Mata Uang Terbebani USD dan Depresiasi Yuan

Ekonomi dolar as
Angga Bratadharma • 15 Juni 2019 19:02
Jakarta: FX Strategist DBS Group Research Philip Wee mengatakan pasar mata uang asing dunia terperangkap di antara dolar Amerika Serikat (USD) yang terbebani harapan pemangkasan suku bunga bank sentral AS dan risiko depresiasi lanjutan yuan Tiongkok yang dipicu oleh perang tarif antara Washington dengan Beijing.
 
"Pada akhirnya, depresiasi yuan Tiongkok lebih penting daripada penurunan suku bunga bank sentral AS," kata Wee, seperti dikutip dari risetnya, di Jakarta, Sabtu, 15 Juni Juni 2019.
 
Ia menambahkan bank sentral AS berpendapat bahwa ekonomi AS sehat namun tidak kebal terhadap risiko global. Risiko itu seperti peningkatan ketegangan dagang dan kegagalan mencapai kesepakatan terkait brexit yang membahayakan Zona Eropa yang rapuh.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal itu diperparah jika Presiden AS Trump mengancam mengenakan tarif pada sisa barang Tiongkok senilai USD325 miliar jika Presiden Tiongkok Xi Jinping tidak menemuinya di KTT G20 pada 28 Juni 2019. "Tiongkok membuka kemungkinan depresiasi yuan lebih dari tujuh yuan terhadap USD jika itu terjadi," tukasnya
 
Sementara itu, Rates Strategist DBS Group Research Eugene Leow mengungkapkan, Tory yang akan menggantikan Theresa May sebagai Perdana Menteri Inggris kemungkinan menuntaskan kebijakan Brexit yakni keluarnya Inggris dari Uni Eropa dengan atau tanpa kesepakatan. Kondisi itu bisa memberika efek terhadap penurunan suku bunga Amerika Serikat.
 
Ia menambahkan jika Brussels tidak menyetujui permintaan menunda lagi tanggal Brexit maka secara hukum Inggris tetap akan keluar dari Zona Eropa tanpa kesepakatan pada 31 Oktober. Oleh karena itu, DBS Group Research meramalkan penurunan suku bunga AS sebanyak dua kali pada September dan Desember.
 
"Itu untuk berjaga-jaga terhadap kemungkinan pelemahan mata uang, yang dipimpin depresiasi yuan dan euro," kata Leow.
 
Dengan keyakinan bahwa seluruh dunia mungkin melemah lebih dulu dan lebih parah daripada AS, lanjutnya, dan dengan dua pemangkasan suku bunga bank sentral AS yang telah diperhitungkan pasar maka tidak akan mudah bagi pedagang/spekulan USD, yang pesimistis, membuat dolar AS jatuh tanpa perlawanan.
 
Lebih lanjut, ruang mata uang asing Asia jauh lebih berhati-hati terkait pelonggaran kebijakan moneter daripada ruang mata uang USD. Dengan kebuntuan dalam pembicaraan dagang Tiongkok-AS, ada kemungkinan lebih besar bank sentral AS menurunkan suku bunganya beberapa kali.
 
Nilai tukar USD memperhitungkan hampir empat kali pemotongan dalam dua tahun ke depan, yang sejauh ini merupakan paling agresif di perekonomian, yang DBS lacak. Secara komparatif, kurva EUR dan JPY hanya menunjukkan penurunan moderat tarif tersirat, tetapi itu mungkin karena fakta bahwa tingkat kebijakan sudah negatif.
 
"Oleh karena itu, kelonggaran untuk memangkas suku bunga lebih terbatas jika dibandingkan dengan di AS meskipun data di Zona Eropa dan Jepang kurang mendukung," pungkas Leow.

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif