Lonjakan tersebut terjadi meski ada kenaikan tarif sebesar 40 persen untuk ekspor baja bekas karena jutaan ton baja tersebut tak diterima dari pasar domestik karena larangan produksi 'ditiaogang' atau baja yang terbuat dari logam bekas.
Sebagian besar ekspor masuk ke negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia, Thailand dan Vietnam. Sumber ekspor terbesar adalah provinsi pesisir timur dan selatan termasuk Guangdong, Jiangsu, Zhejiang, Fujian, dan Hainan.
Tiongkok menghapus produksi baja sebesar 140 juta ton tahun lalu sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kapasitas logam bekas yang berlebihan di sektor baja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News