Ilustrasi (FOTO: AFP)
Ilustrasi (FOTO: AFP)

Survei: Brexit Diprediksi Tidak Selesai Sesuai Batas Waktu

Ekonomi brexit ekonomi inggris
Angga Bratadharma • 11 Mei 2019 14:02
London: Survei CNBC kepada eksekutif keuangan senior di ruang dewan yang berlokasi di seluruh dunia mengungkapkan bahwa Brexit atau keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) diperkirakan tidak selesai pada akhir Oktober dan Uni Eropa perlu memberikan tenggat waktu lainnya.
 
Mengutip CNBC, Sabtu, 11 Mei 2019, setelah melewatkan akhir tanggal keluar di Maret, Inggris dan Irlandia Utara sekarang akan meninggalkan Uni Eropa pada 31 Oktober. Akan tetapi perjanjian penarikan belum disetujui oleh anggota parlemen Inggris di London. Kondisi itu mau tidak mau menimbulkan ketidakpastian termasuk dari sisi perekonomian.
 
Perwakilan dari Konservatif yang berkuasa dan oposisi utama Partai Buruh saat ini sedang dalam pembicaraan untuk melihat apakah kesepakatan lintas partai dapat memecah kebuntuan yang telah menghentikan proses tersebut atau tidak. Tidak ditampik, kedua belah pihak memiliki perbedaan yang besar atas rencana bersama itu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dewan CFO Global CNBC mewakili beberapa perusahaan publik dan swasta terbesar di dunia, secara kolektif mengelola hampir USD5 triliun nilai pasar. Menurut survei triwulanan Dewan CFO terbaru, yang diterbitkan, sebanyak 35,6 persen dari pejabat keuangan (CFO) sekarang melihat perpanjangan lain ke batas waktu Brexit sebagai pilihan yang paling memungkinkan.
 
Tepatnya 20 persen responden berpikir Inggris akan mengadakan referendum lain, sementara 26,7 persen berpikir negara itu akan pergi pada Oktober dengan kesepakatan. Hanya 2,2 persen dari mereka yang ditanya percaya bahwa Brexit akan terjadi pada akhir Oktober tanpa kesepakatan apapun.
 
Itu menandai perubahan besar dalam sentimen dari Februari tahun ini, ketika 40,7 persen dari kepala keuangan berpikir tidak ada kesepakatan adalah pilihan yang paling mungkin. Meski demikian, ada harapan agar Brexit bisa terjadi dengan kesepakatan yang saling menguntungkan, terutama bagi Inggris.
 
Ketika dipecah menjadi sebuaj daerah, peluang referendum kedua paling menonjol oleh para eksekutif yang berbasis di Asia dengan 60 persen persen responden percaya bahwa Inggris perlu kembali ke tempat pemungutan suara untuk menyelesaikan hasil Brexit.
 
Dengan perbandingan, hanya 10 persen CFO berbasis AS dan 6,7 persen eksekutif EMEA memperkirakan diperlukan referendum lain. Pandangan ekonomi global dewan ini menawarkan pandangan triwulanan untuk berbagai negara dan wilayah di seluruh dunia.
 
Kuartal ini mengungkapkan bahwa AS adalah satu-satunya dari 11 area yang dianggap menurun. Semua area lainnya dinilai stabil. Untuk pertanyaan lain yang diajukan, 25,9 persen responden mengatakan kebijakan perdagangan AS adalah faktor risiko eksternal terbesar bagi keberhasilan bisnis mereka.
 
Angka itu jauh melebihi serangan siber (7,9 persen) dan Brexit (5,5 persen) sebagai dua ketakutan terbesar berikutnya. Hasilnya disusun sebelum ancaman tarif baru dari Presiden Donald Trump pada barang yang diproduksi dan diekspor oleh ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok.
 
Trump mengatakan dalam cuitannya pada Minggu sore bahwa 10 persen pungutan saat ini atas barang-barang Tiongkok senilai USD200 miliar akan naik menjadi 25 persen pada ari Jumat waktu setempat. Bahkan, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada tambahan USD325 miliar barang Tiongkok dengan segera.

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif