Mengutip CNBC, Sabtu, 21 Desember 2019, Federal Reserve mengatakan produksi manufaktur naik sebanyak 1,1 persen pada bulan lalu setelah direvisi turun 0,7 persen pada Oktober. Produksi industri juga naik 1,1 persen pada November setelah penurunan direvisi turun 0,9 persen pada Oktober.
Tidak termasuk kendaraan bermotor dan bagiannya, produksi industri secara keseluruhan dan produksi manufaktur pada November masing-masing naik 0,5 persen dan 0,3 persen. Ekonom yang disurvei memperkirakan produksi manufaktur secara keseluruhan akan naik 0,7 persen dan produksi industri meningkat 0,8 persen pada November.
Meski demikian, produksi di pabrik-pabrik masih turun 0,8 persen di November pada basis tahun-ke-tahun. Serikat Pekerja Auto Serikat mencapai kontrak kerja baru selama empat tahun dengan General Motors pada akhir Oktober. Hal ini mengakhiri pemogokan oleh sekitar 46 ribu pekerja dengan pembuat mobil nomor satu di AS itu.
Ukuran sektor industri the Fed terdiri dari manufaktur, pertambangan, utilitas listrik, dan gas. Ada lonjakan 12,4 persen dalam produksi kendaraan bermotor dan suku cadang pada November. Secara keseluruhan, produksi naik 2,1 persen untuk barang-barang konsumen dan 1,7 persen untuk peralatan bisnis, kata the Fed.
Produksi utilitas meningkat 2,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang turun 2,4 persen. Sektor manufaktur, yang berkontribusi 11 persen dari ekonomi AS, telah dilemahkan oleh perang dagang yang telah berlangsung 17 bulan. Artinya, kesepakatan dagang antara dua negara Adidaya itu bisa memberikan efek positif.
Sementara itu, kesepakatan perdagangan fase satu yang telah lama ditunggu-tunggu antara Amerika Serikat dan Tiongkok akhirnya disepakati dan menjadi berita utama yang memberi stimulus terhadap pasar keuangan dan pasar saham. Namun, Goldman Sachs, sebagai salah satu bank terbesar di AS, tidak begitu senang dengan hal itu.
Sebagai bagian dari kesepakatan terbatas itu, AS mengatakan akan mempertahankan tarif 25 persen untuk sekitar USD250 miliar impor Tiongkok. Selain itu, akan mengurangi tarif pada USD120 miliar produk Tiongkok menjadi 7,5 persen. Akan tetapi, Kepala Ekonom Goldman Jan Hatzius menilai kesepakatan itu lebih kecil dari yang diharapkan.
"Pengurangannya hanya setengah dari asumsi dasar kami (terkait kesepakatan dagang). Masih ada beberapa ketidakpastian mengenai status perjanjian ini, karena terlihat sekali lagi bahwa beberapa rincian teknis dan hukum masih berubah-ubah," pungkas Hatzius.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News