Ilustrasi (AFP PHOTO/Andrew CABALLERO-REYNOLDS)
Ilustrasi (AFP PHOTO/Andrew CABALLERO-REYNOLDS)

IMF: Devaluasi Mata Uang Takkan Perbaiki Masalah Ekonomi

Ekonomi imf ekonomi dunia ekonomi global
Angga Bratadharma • 24 Agustus 2019 19:02
New York: Ekonom senior di Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) telah memperingatkan negara-negara agar tidak terlalu mengandalkan pelonggaran kebijakan moneter. Bahkan, IMF berpendapat bahwa mata uang adalah 'bukan palu atau paku' dalam upaya untuk menghidupkan kembali perekonomian yang sedang bermasalah.
 
Dengan pertumbuhan ekonomi global yang lamban dan inflasi yang rendah, sejumlah bank sentral baru-baru ini memangkas suku bunga acuan untuk menopang ekonomi masing-masing. Sedangkan bank sentral yang lain, seperti bank sentral Eropa, European Central Bank (ECB) diperkirakan menyusul memangkas suku bunga acuan di akhir tahun ini.
 
Memotong suku bunga artinya mengurangi biaya pinjaman dengan harapan mendorong konsumen dan bisnis untuk membelanjakan serta berinvestasi lebih banyak. Namun, dalam sebuah blog yang diterbitkan, ekonom senior IMF Gita Gopinath, Luis Cubeddu dan Gustavo Adler memperingatkan hal tersebut.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Mengutip CNBC, Sabtu, 24 Agustus 2019, mereka mengatakan lonjakan pelonggaran moneter baru-baru ini baik dari ekonomi pasar maju maupun pasar berkembang telah menciptakan kekhawatiran atas apa yang disebut kebijakan 'beggar-thy-neighbor' dan kekhawatiran perang mata uang.
 
Beggar-thy-neighbor mengacu pada kebijakan perdagangan internasional yang membantu negara yang memberlakukannya tapi merugikan tetangga atau mitra dagangnya. Sedangkan pelonggaran moneter dapat membantu merangsang permintaan domestik, tapi pada gilirannya menguntungkan negara-negara lain dengan meningkatkan permintaan.
 
IMF menyatakan keprihatinan tentang melemahnya nilai tukar. Ini membuat ekspor lebih kompetitif tetapi mengurangi permintaan untuk impor negara lain karena harga mereka meningkat, efek yang dikenal sebagai pengalihan pengeluaran.
 
"Devaluasi mata uang telah menjadi titik fokus untuk ketegangan perdagangan global. Awal bulan ini, AS secara resmi menuduh Tiongkok melakukan manipulasi mata uang, sementara pada Juni, Presiden Donald Trump menyerang Presiden ECB Mario Draghi atas dampak komentarnya yang dovish tentang nilai euro terhadap dolar," kata IMF.
 
"Dengan ruang moneter konvensional terbatas untuk beberapa negara maju, saluran pelonggaran moneter mata uang ini telah mendapat perhatian besar," ucap IMF.
 
"Tapi seseorang tidak boleh menaruh terlalu banyak stok dalam pandangan bahwa pelonggaran kebijakan moneter dapat melemahkan mata uang suatu negara. Cukup untuk membawa peningkatan yang berkelanjutan dalam neraca perdagangannya," tukas IMF.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif