Ilustrasi (Mark Ralston/AFP)
Ilustrasi (Mark Ralston/AFP)

Tiongkok Kurangi Kepemilikan Surat Utang AS

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
18 Juni 2019 10:05
Washington: Tiongkok memutuskan untuk mengurangi kepemilikan surat utang Pemerintah Amerika Serikat pada April. Keputusan itu diambil di tengah perang dagang kedua negara yang semakin memanas. Tidak ditampik, perang dagang yang sedang berlangsung memberikan efek negatif, termasuk terhadap ekonomi dunia.
 
Mengutip Antara, Selasa, 18 Juni 2019, menurut data yang dirilis Departemen Keuangan AS kepemilikan Tiongkok atas surat utang Pemerintah Amerika Serikat turun menjadi USD1,113 triliun pada April. Kondisi itu merupakan bulan kedua berturut-turut di mana kepemilikannya berkurang.
 
Namun demikian, Tiongkok masih menjadi pemegang asing terbesar atas surat utang Pemerintah AS. Tiongkok memiliki USD1,121 triliun pada Maret, sedikit menyusut dari bulan sebelumnya. Sementara itu kepemilikan Jepang atas obligasi AS turun menjadi USD1,064 triliun pada April dari USD1,078 triliun pada Februari.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Gabungan Tiongkok dan Jepang memiliki lebih dari sepertiga dari total kepemilikan asing atas surat utang Pemerintah AS. Gabungan akuisisi luar negeri neto sekuritas jangka panjang AS, sekuritas jangka pendek AS, dan arus perbankan, hasilnya adalah arus keluar asing neto sekuritas AS senilai USD7,8 miliar pada April, data menunjukkan.
 
Sebelumnya, mantan penasihat perdagangan utama untuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Clete Willems, mengatakan AS dan Tiongkok belum pasti akan mencapai kesepakatan saat kedua negara bertemu di KTT G20 akhir bulan ini. Kesepakatan itu terkait negosiasi panjang hubungan dagang.
 
"Tidak akan ada kesepakatan di G20 (antara AS dengan Tiongkok mengenai hubungan dagang)," kata Clete Willems, dalam sebuah wawancara dengan Kayla Tausche di acara Capital Exchange CNBC di Washington.
 
Willems, yang merupakan Wakil Direktur Dewan Ekonomi Nasional dan yang memainkan peran negosiasi utama dalam KTT multilateral sebelumnya, mengatakan bahwa KTT tingkat tinggi di Osaka, Jepang, dapat menjadi katalisator untuk menutup kesepakatan dengan Beijing.
 
Trump terus mengharapkan dapat bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan puncak itu. Trump mengatakan kepada CNBC bahwa dia akan mengenakan tarif baru pada barang-barang Tiongkok jika Xi Jinping tidak hadir.
 
Willems, yang keberangkatannya dari Pemerintahan Trump diumumkan pada Maret, mengaku lebih bullish pada prospek kesepakatan AS-Tiongkok. Dia memperkirakan bahwa kesepakatan itu tidak akan datang di bulan depan. Adapun perang dagang yang sedang terjadi sekarang tidak ditampik bisa memberikan efek negatif.
 
"KTT G20 yang dijadwalkan 28-29 Juni dapat mengkatalisasi periode negosiasi yang produktif di mana kesepakatan itu ditutup," kata Willems seraya menyarankan bahwa melihat kerangka waktu tiga atau enam bulan mungkin lebih masuk akal.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif