Ilustrasi (AFP PHOTO/JEWEL SAMAD)
Ilustrasi (AFP PHOTO/JEWEL SAMAD)

Bursa Saham AS Berakhir Merekah

Ekonomi wall street
Angga Bratadharma • 03 Juli 2019 07:01
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir lebih tinggi pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB), menutup sesi fluktuatif di tengah kekhawatiran atas potensi sengketa perdagangan AS-Uni Eropa. Sedangkan sengketa dagang antara AS dengan Tiongkok diharapkan bisa segera mereda dalam waktu dekat.
 
Mengutip Xinhua, Rabu, 3 Juli 2019, indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 69,25 poin atau 0,26 persen menjadi 26.786,68. Sedangkan S&P 500 meningkat 8,68 poin atau 0,29 persen menjadi 2.973,01. Indeks Komposit Nasdaq naik 17,93 poin atau 0,22 persen menjadi 8.109,09.
 
Keuntungan Dow Jones dipimpin oleh saham Verizon Communications dan Cisco Systems yang terlihat terus menanjak. Pergerakan saham perusahaan naik masing-masing sebanyak 2,59 persen dan 1,95 persen. Diharapkan kondisi ini bisa terus membaik di masa-masa yang akan datang.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebanyak tujuh dari 11 sektor S&P 500 utama ditutup lebih tinggi, dengan real estat dan utilitas masing-masing naik 1,82 persen dan 1,24 persen. Sedangkan sektor energi, adalah kelompok dengan kinerja terburuk dengan mengalami penurunan sebanyak 1,74 persen.
 
Sementara itu, Pemerintah AS mengusulkan tarif tambahan USD4 miliar untuk barang Uni Eropa di tengah perselisihan mereka mengenai subsidi pesawat. Wall Street khawatir bahwa potensi pungutan baru akan lebih jauh merusak prospek ekonomi dan berdampak pada pendapatan perusahaan, para ahli mencatat.
 
Di sisi lain, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain seperti Rusia, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, sepakat untuk memperpanjang pengurangan pasokan minyak hingga Maret 2020 ketika para anggotanya mengatasi perbedaan untuk mencoba menopang harga.
 
Perpanjangan itu terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengaku setuju dengan Arab Saudi untuk memperpanjang pakta dan terus memotong produksi gabungan sebesar 1,2 juta barel per hari, atau 1,2 persen dari permintaan dunia.
 
Tanda-tanda perlambatan ekonomi global yang dapat menekan pertumbuhan permintaan minyak, berarti OPEC dan sekutunya dapat menghadapi perjuangan berat untuk menopang harga dengan mengekang pasokan. Itu angka minimum yang bisa disepakati OPEC untuk mencegah penurunan harga yang besar.
 
"Negara-negara anggota mencatat bahwa pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun ini telah turun menjadi 1,14 juta barel per hari, sementara pasokan non-OPEC diperkirakan akan tumbuh sebesar 2,14 juta barel per hari," tulis analis PVM, Tamas Varga dalam sebuah catatan.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif