Ekspor naik 8,1 persen pada Mei dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu atau lebih tinggi dari estimasi median untuk kenaikan tahunan 7,5 persen yang diperkirakan oleh para ekonom dalam jajak pendapat. Pada April, ekspor tumbuh secara tahunan sebanyak 7,8 persen.
Ekspor kemungkinan akan terus tumbuh berkat peningkatan permintaan peralatan manufaktur, mobil, dan suku cadang mobil. Akan tetapi, surplus perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat menjadikannya target potensial bagi kebijakan proteksionis Presiden AS Donald Trump.
Mengutip CNBC, Selasa, 19 Juni 2018, ekspor Jepang ke Amerika Serikat naik 5,8 persen secara tahun ke tahun di Mei. Kondisi tersebut lebih cepat dari 4,3 persen secara tahun ke tahun dibandingkan April, karena pengiriman suku cadang mobil yang lebih tinggi.
Sedangkan kinerja impor naik sebanyak 14,0 persen di tahun ini hingga Mei dibandingkan dengan estimasi median untuk peningkatan 8,2 persen. Neraca perdagangan mengalami defisit 578,3 miliar yen (USD5,23 miliar), dibandingkan dengan estimasi median untuk defisit 235,0 miliar yen.
Impor dari Amerika Serikat naik sebanyak 19,9 persen secara tahun ke tahun seiring impor pesawat dan batu bara AS tumbuh. Akibatnya, surplus perdagangan Jepang dengan Amerika Serikat turun 17,3 persen secara tahun ke tahun menjadi 340,7 miliar yen (USD3,08 miliar).
Penurunan surplus perdagangan sepertinya tidak akan membebaskan Jepang dari kritik Gedung Putih ketika Pemerintahan Presiden Donald Trump menaikkan tarif untuk menurunkan defisit perdagangan AS dan memerangi apa yang dikatakannya sebagai kebijakan perdagangan yang tidak adil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News