"Yuan sebagai cadangan global kemungkinan akan naik menjadi lima persen dalam lima hingga 10 tahun mendatang, dari saat ini kurang dari dua persen," kata Xing, seperti dilansir dari Xinhua, Senin, 4 Maret 2019.
"Peningkatan ini berarti bank sentral dan (lembaga) dana abadi (pemerintah) akan membeli lebih banyak aset dalam mata uang yuan."
Pada saat itu mata uang yuan akan melampaui poundsterling Inggris dan yen Jepang. Serta menjadi mata uang cadangan terbesar ketiga setelah dolar AS dan euro. Perkiraan Xing tentang pengaruh yuan yang meningkat didasarkan pada pembukaan mata uang negara itu.
Tiongkok telah meningkatkan langkah-langkah untuk mendorong investasi asing di pasar sekuritas dan obligasi, meluncurkan program perdagangan terhubung dan memberikan kuota yang lebih tinggi kepada investor luar negeri.
"Reformasi keuangan akan membuat investor lebih percaya diri tentang aset Tiongkok," kata Xing.
Xing juga memperkirakan bahwa yuan akan mempertahankan kekuatan terhadap sekeranjang mata uang utama dalam dua tahun ke depan, dan akan ada peningkatan yang signifikan dari aliran modal ke pasar modal Tiongkok.
Di sisi lain Administrasi Negara Valuta Asing atau State Administration of Foreign Exchange (SAFE) mencatat defisit perdagangan jasa luar negeri Tiongkok terus meningkat pada Januari. Defisit tumbuh menjadi USD22,8 miliar pada bulan lalu atau naik dibandingkan Desember 2018 sebesar USD22,6 miliar.
"Pendapatan dari perdagangan jasa mencapai USD21,3 miliar pada bulan lalu, sementara pengeluarannya USD44,1 miliar," ungkap SAFE, seperti dilansir dari Xinhua.
Berbeda dengan perdagangan barang dagangan, perdagangan jasa mengacu pada penjualan dan pengiriman produk tidak berwujud seperti transportasi, pariwisata, telekomunikasi, konstruksi, periklanan, komputasi dan akuntansi.
Tiongkok telah mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan pengembangan perdagangan jasa, termasuk secara bertahap membuka sektor keuangan, pendidikan, budaya dan perawatan medis. SAFE mulai menerbitkan data bulanan tentang perdagangan layanan pada Januari 2014 untuk meningkatkan transparansi statistik neraca pembayaran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News