Kepala Peneliti New World Wealth Andrew Amoils mengakui fakta ini sedikit di luar dugaan. Musababnya, pada 2016 lalu Inggris dilanda sejumlah ketidakpastian ekonomi dan politik seusai peristiwa British Exit (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Namun, kenyataan berkata lain. Pertumbuhan ekonomi di Inggris dan AS tergolong baik. Kondisi fundamen ekonomi juga masih terjaga.
"Ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat ditolong berbagai regulasi dan kebijakan yang dibuat," ujar Amoils seperti dikutip BBC.
Hal senada juga diungkapkan perusahaan konsultan properti Knight Frank. Menurut perusahaan itu, pada 2016 jumlah orang kaya dengan total aset lebih dari USD30 miliar di seluruh dunia meningkat signifikan hingga mencapai 193.490 orang atau bertumbuh 6.340 ketimbang tahun sebelumnya.
Para peneliti mengungkapkan pertumbuhan itu didasarkan pada kuatnya performa pasar saham di 2016. Bursa saham di AS dan Inggris juga mencapai rekor tertinggi di minggu terakhir tahun ini. Secara global, Knight Frank memperkirakan jumlah orang dengan harta melimpah akan tumbuh sebesar 43 persen dalam satu dekade ke depan.
"Kenaikan jumlah orang kaya di Inggris tergolong luar biasa untuk ukuran Eropa. Jumlah orang kaya di Inggris diprediksi naik 30 persen. Padahal negara Eropa lain diperkirakan reratanya hanya 12 persen," sebut perusahaan itu.
Kendati pertumbuhan jumlah hartawan di Inggris cukup tinggi, pertumbuhan itu tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan yang terjadi di sejumlah negara Asia. Menurut Knight Frank, peningkatan orang kaya tertinggi akan terjadi di berbagai wilayah di Asia yang mencapai 91 persen.
Pada 2026 Asia diperkirakan mampu mengatasi ketertinggalan dari Amerika Serikat dalam jumlah konglomerat. Hingga 2016, tercatat, AS memiliki keunggulan 27.020 konglomerat lebih banyak daripada Asia. Jumlah itu akan menyusut hingga menjadi 7.068 dalam satu dekade ke depan.
Peneliti menyebutkan, Singapura, Shanghai, dan Beijing akan menjadi pusat kekayaan sebagaimana AS dengan San Fransisco-nya. Sementara itu, beberapa negara Afrika seperti Ethiopia, Rwanda, dan Tanzania juga diprediksi mengalami pertumbuhan populasi orang kaya dalam angka yang besar. Fenomena ini dipandang sangat baik karena ada pemerataan kekayaan di berbagai wilayah di seluruh dunia. (Media Indonesia)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News