Tiongkok. AFP PHOTO/Michal Cizek.
Tiongkok. AFP PHOTO/Michal Cizek.

IMF Prediksi Perekonomian Tiongkok & Jepang Masih Terus Menurun

03 Mei 2016 17:03
medcom.id, Hong Kong: Dana Moneter Internasional atau IMF memprediksi Ekonomi Tiongkok dan Jepang diperkirakan akan melambat tajam selama dua tahun ke depan, namun pertumbuhan Asia akan tetap kuat karena permintaan domestik mengimbangi kelesuan dari perdagangan global yang lemah.
 
Dilansir dari AFP, Selasa, 3 Mei, langkah-langkah stimulus pemerintah, harga komoditas yang lebih rendah dan tingkat pengangguran yang rendah akan membantu mendorong ekspansi regional. Lembaga internasional tersebut juga meminta para pemimpin untuk mendorongnya dengan reformasi.
 
IMF juga memperingatkan beberapa tantangan eksternal, dari pelemahan di negara-negara maju, perdagangan global yang lemah dan semakin bergejolaknya pasar-pasar keuangan global. Demikian seperti dikutip dari Antara.

IMF memperkirakan pertumbuhan di Asia sebesar  5,3 persen pada tahun ini dan berikutnya, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,4 persen. Ekonomi Tiongkok,  terbesar kedua dunia dan pendorong utama pertumbuhan global, diperkirakan akan tumbuh 6,5 persen pada tahun ini, di bawah target Beijing, dan 6,2 persen pada 2017.
 
Angka-angka tersebut juga turun dari 6,9 persen yang terlihat pada 2015, yang merupakan tingkat terendah dalam seperempat abad, tapi sedikit lebih baik daripada proyeksi IMF pada Oktober lalu.
 
IMF mencatat kepemimpinan Tiongkok sedang mencoba untuk mengubah pendorong pertumbuhan negara itu menjauh dari ketergantungan pada investasi pemerintah dan ekspor ke satu yang didominasi oleh konsumsi domestik.
 
Resesi Jepang
 
Pertumbuhan Jepang diperkirakan akan melambat. IMF mengatakan para eksportir akan terpukul penguatan yen, yang berada pada tertinggi 18 bulan terhadap dolar, dan pelambatan perdagangan dengan Tiongkok.
 
Pertumbuhan ekonomi Jepang menjadi 0,5 persen pada 2016 dan menyusut 0,1 persen karena perkiraan kenaikan pajak konsumsi, sementara lembaga multilateral itu juga mengutip masalah lama yang sedang berlangsung dari populasi yang  menua dan  gunung utang yang besar.
 
Prospek lebih rendah muncul beberapa hari setelah bank sentral Jepang (BoJ) menolak untuk meningkatkan program stimulusnya, meskipun serangkaian data lemah telah mengangkat pertanyaan tentang upaya-upaya Perdana Menteri Shinzo Abe untuk menopang pertumbuhan.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan