Dalam sebuah laporan yang diterbitkan dalam pertemuan puncak G20 di Tiongkok, satuan tugas (satgas) yang dibentuk Pemerintah Jepang menanggapi Brexit dengan peringatan adanya kemungkinan arus keluar untuk penelitan obat dan pengembangan investasi dari Inggris.
Data ekonomi terbaru menunjukkan dampak ekonomi dari keputusan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa belum separah beberapa prediksi yang ada. Kondisi itu demikian terjadi, meski Perdana Menteri Inggris Theresa May pada Minggu mengatakan bahwa ekonomi akan menderita akibat adanya keputusan tersebut.
"Sejak awal tugas, tiga pertemuan diadakan dan kami telah menyusun pesan (terkait Brexit), dengan kekhawatiran dari sektor swasta," kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri, di sela-sela KTT G20, di Hangzhou, Tiongkok, seperti dikutip dari Reuters, Senin (5/9/2016).
Laporan Jepang, yang dikutip dari situs Kementerian Luar Negeri pada Jumat, mengatakan bahwa ada sejumlah kekhawatiran termasuk lembaga keuangan Jepang yang memungkinkan untuk mengajukan permohonan status perusahaan di Uni Eropa akibat Brexit karena mereka kehilangan single paspor, yang merupakan hak untuk beroperasi di blok tersebut.
Hal ini juga menimbulkan adanya kekhawatiran atas kemudahan akses ke tenaga kerja terampil, tarif proteksi, dan status London sebagai pusat kliring untuk transaksi euro. Tentu hal semacam ini perlu menjadi pertimbangan agar Brexit tidak menimbulkan kerugian secar signifikan.
Perdana Menteri Theresa May dalam sebuah wawancara mengatakan, London pada Minggu mendatang berencana melakukan pembahasan untuk menentukan bentuk hubungan dengan Uni Eropa usai Inggris meninnggalkan blok itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News