Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Olivier Douliery/AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Olivier Douliery/AFP

Akhir Perang Dagang AS-Tiongkok Ada di Tangan Trump

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 07 September 2019 15:04
Beijing: Penasihat Pemerintah Tiogkok Wang Huiyao menyerahkan keputusan perang dagang kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk mencapai kesepakatan dengan Tiongkok. Apabila perang dagang dihentikan, maka bisa memberikan efek positif terhadap ekonomi dunia yang tengah dilanda ketidakpastian.
 
"Tiongkok telah melakukan semua upaya termasuk mengeluarkan undang-undang investasi asing baru pada Maret untuk mengatasi beberapa kekhawatiran yang dikeluhkan oleh komunitas bisnis asing," kata Wang, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 7 September 2019,
 
Undang-undang baru itu melarang transfer teknologi secara paksa dari bisnis yang diinvestasikan asing di Tiongkok dan meningkatkan perlindungan kekayaan intelektual. Wang mengatakan hal itu juga memberi perusahaan luar negeri memiliki kedudukan yang sama dengan pemain domestik -sama persis dengan yang dikhawatirkan oleh Pemerintah AS.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tidak realistis untuk mengubah seluruh rangkaian undang-undang di Tiongkok -tidak ada negara yang bisa melakukan itu. Tetapi kami benar-benar telah mengesahkan undang-undang baru. Jadi, saya pikir masih ada alasan untuk bekerja di sana guna mengatasi semua kekhawatiran yang mungkin dimiliki AS," tukas Wang.
 
Tetapi beberapa analis mengatakan undang-undang baru -yang akan diimplementasikan pada Januari tahun depan- tidak berjalan cukup efektif dan mungkin tidak cukup untuk menenangkan Washington. Hampir dua bulan setelah pengesahan undang-undang, Trump kembali menyalahkan Tiongkok karena tidak mendukung komitmen yang dibuatnya selama negosiasi sebelumnya.
 
Presiden Trump mengatakan Beijing melanggar kesepakatan. Washington pun kembali menaikkan tarif untuk barang-barang Tiongkok. Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin kemudian mengungkapkan kesepakatan baru mencapai 90 persen. Sayangnya, tensi perang perdagangan telah meningkat lagi sejak itu.
 
Pasalnya, kedua belah pihak mengenakan tarif baru pada barang satu sama lain dengan pungutan yang diyakini bakal diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang. Kondisi itu menyebabkan beberapa ahli menurunkan harapan mereka bahwa dua ekonomi terbesar dunia dapat mencapai kesepakatan sebelum pemilihan Presiden AS pada 2020.
 
"Jadi terserah AS untuk benar-benar maju dan fleksibel serta tidak mengambil sikap yang sangat keras dalam hal ini (untuk mencapai kesepakatan dagang dengan Tiongkok). Kami tidak bisa memiliki kesepakatan yang sempurna. Anda dapat melihat bahwa Tiongkok terus membuka, bukan untuk kepentingan dan kepentingan AS, tetapi untuk Tiongkok sendiri," ucapnya.
 
Sebelumnya, Tiongkok dan Amerika Serikat mulai saling menerapkan tarif-tarif tambahan terhadap komoditas masing-masing pada Minggu, 1 September 2019. Penerapan itu merupakan peningkatan ketegangan terbaru dalam perang dagang antara kedua negara kendati pembicaraan di antara mereka kemungkinan akan dimulai lagi bulan ini.
 
Putaran baru tarif AS terhadap beberapa barang Tiongkok dan tarif Tiongkok terhadap barang-barang AS dijadwalkan mulai berlaku pada Minggu pukul 04.01 GMT (11.01 WIB). Pemerintah Trump mulai menerapkan tarif 15 persen terhadap impor barang dari Tiongkok senilai lebih dari USD125 miliar (sekitar Rp1,7 kuadriliun).
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif