Jika BoJ, yang dipimpin oleh Gubernur Haruhiko Kuroda, memutuskan untuk mengubah sikap kebijakannya maka salah satu jalan akan menjadi kurang agesif terkait pembelian aset, yang memungkinkan imbal hasil mengalami kenaikan, sedangkan pemotongan suku bunga negatif akan ke wilayah lebih dalam pada jangka pendek.
Hal ini memungkinkan dan nantinya mengakibatkan kenaikan imbal hasil dari treasury AS dan obligasi pemerintah lainnya, serta mendorong marjin lebih baik lagi untuk perusahaan, termasuk mendorong biaya pinjaman bagi konsumen.
"BoJ menjadi penting karena Jepang telah membeli sesuatu di luar negeri yang memberi mereka keuntungan," kata Global Head of Interest Rates Strategy di Credit Agricole Corporate & Investment Bank di New York David Keeble, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (20/9/2016).
Pekan lalu, imbal hasil utang Pemerintah Jepang untuk 10 tahun mengalami kenaikan dan mendekati nol persen. Adapun di global, pasar obligasi mengalami sell off dipicu oleh keputusan bank sentral Eropa yang menahan diri dari memperluas program pembelian aset pada September.
BoJ akan melakukan kajian secara komprehensif dari kebijakan moneter yang dilakukan Federal Reserve pada pertemuan 20-21 September, dan terdapat spekulasi yang memungkinkan untuk BoJ menurunkan suku bunga jangka pendek lebih dalam ke wilayah negatif dan mengubah program pembelian obligasi.
Ketua the Fed Yellen dan pembuat kebijakan lainnya akan bersidang bersama selama 20-21 September, sama seperti rekan-rekan mereka di Jepang. Secara luas, the Fed diperkirakan akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan. Namun, ada kemungkinan the Fed tetap membuka pintu untuk kenaikan suku bunga di akhir tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News