Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde. FOTO: AFP
Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde. FOTO: AFP

Lagarde: Kebijakan Moneter Bank Sentral Eropa Tetap Akomodatif

Ekonomi bank central eropa ekonomi eropa uni eropa
Suci Sedya Utami • 30 Agustus 2019 12:35
Brussels: Presiden bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) Christine Lagarde mengisyaratan akan tetap berpegang teguh pada kebijakan moneter ekspansif yang diambil oleh pendahulunya Mario Draghi. Adapun kebijakan tersebut telah menopang ekonomi Eropa di tengah meningkatnya risiko pertumbuhan.
 
Lagarde menggarisbawahi bahwa inflasi di zona Eropa masih tetap rendah, sementara pertumbuhan stagnan. "Oleh karena itu jelas bahwa kebijakan moneter perlu tetap sangat akomodatif untuk masa mendatang. ECB memiliki alat yang siap digunakan dan harus siap untuk bertindak," kata Lagarde, seperti dilansir dari AFP, Jumat, 30 Agustus 2019.
 
Selama delapan tahun menjabat, Presiden ECB sebelumnya Mario Draghi telah membawa suku bunga ke rekor terendah. Selain itu, ia mengeluarkan miliaran terkait kebijakan pelonggaran kuantitatif untuk menangkal ancaman deflasi dan mendorong pertumbuhan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun dengan prospek pertumbuhan yang masih redup termasuk perekonomian terbesar di Eropa yakni Jerman yang diperkirakan tergelincir ke dalam resesi, Draghi mengatakan, pada pertemuan kebijakan moneter terakhir ECB pada Juli lalu, bank sentral dapat meluncurkan paket stimulus baru dan memangkas suku bunga lebih lanjut.
 
"ECB tidak akan menunggu kondisi ekonomi memburuk sebelum bertindak," kata Draghi.
 
Survei selama berbulan-bulan menunjukkan perlambatan ekonomi di kuartal kedua dan ketiga dari pertumbuhan 0,4 persen yang dibukukan pada Januari-Maret. Pertumbuhan yang lambat ini mengancam target inflasi bank sentral di seluruh wilayah yang berada di level 1,3 persen pada Juni.
 
Selain kekhawatiran yang meningkat atas proteksionisme yang dipimpin Amerika Serikat (AS), suasana ekonomi di kawasan tersebut juga dibasahi oleh keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit). Bahaya dari Brexit tanpa kesepakatan juga semakin intensif, dengan Boris Johnson sebagai perdana menteri baru Inggris.
 
Namun Lagarde menyuarakan keyakinan bahwa otoritas Uni Eropa, termasuk ECB, telah mempersiapkan Brexit berada dalam kondisi yang sulit. "Secara keseluruhan, saya yakin bahwa langkah-langkah yang diambil sejauh ini telah membatasi dampak keberangkatan Inggris dari Uni Eropa pada akses ke layanan keuangan di kawasan Eropa," pungkas Lagarde.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif