Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)
Ilustrasi (AFP PHOTO/GREG BAKER)

Analis: Utang Besar Tiongkok Tidak Lagi Bisa Diabaikan

Ekonomi ekonomi china tiongkok
Angga Bratadharma • 24 Agustus 2019 21:01
New York: Ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok, melambat dan melewati titik sudah tidak bisa lagi mengabaikan utangnya yang besar. Analis independen Fraser Howie mengatakan seluruh utang yang tersembunyi di Tiongkok telah menjadi sorotan ketika perekonomian Tiongkok tidak melaju kencang seperti tahun-tahun sebelumnya.
 
"Tiongkok sangat melewati titik kritis dengan utang tidak lagi dapat diabaikan. Biaya untuk membayar utang hanya mengalihkan perhatian dari hampir semua hal lain," kata Howie, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 24 Agustus 2019.
 
Total utang Tiongkok -perusahaan, rumah tangga, dan pemerintah- naik menjadi lebih dari 300 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada kuartal pertama 2019. Perolehan itu naik tipis dari periode yang sama tahun sebelumnya, menurut laporan oleh Institute of International Finance.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tiongkok memiliki stimulus besar ini dan menghidupkan keran kredit. Mereka mendorong semua permintaan (ekonomi) global ini. Tapi jelas ada biaya yang harus dibayar dan sekarang mereka menderita (dari utang yang membengkak) itu," kata Howie.
 
Tingkat utang Tiongkok melonjak tajam beberapa tahun yang lalu ketika bank-banknya memperpanjang jumlah kredit guna mendorong pertumbuhan. Namun hal tersebut menyebabkan raksasa Asia itu harus melakukan upaya pengurangan utang agar tidak memberikan efek negatif terhadap perekonomian.
 
Tetapi perang perdagangan telah mengurangi upaya untuk mengurangi utangnya yang besar saat Beijing mencari cara meningkatkan ekonominya yang melambat. Adapun perlambatan yang terjadi adalah pertumbuhan terendah dalam 27 tahun. Awal tahun ini, bank-bank mulai meningkatkan pinjaman lagi, dengan pinjaman baru melonjak ke rekor tertinggi.
 
Sedangkan bank sentral Tiongkok pada minggu ini meluncurkan reformasi suku bunga utama -suku bunga pinjaman- yang akan membuat biaya pinjaman kepada perusahaan lebih murah, dan secara teoritis meningkatkan investasi. Tetapi Howie menilai masalah sebenarnya adalah apakah akan ada permintaan kredit lebih banyak atau tidak.
 
"Ekonomi Tiongkok jelas melambat, ada banyak halangan, ada perusahaan yang meninggalkan Tiongkok. Tiongkok menjadi kasus investasi yang jauh lebih sulit karena sejumlah alasan. Jadi apakah permintaan yang mendasarinya ada atau tidak?" tukasnya.
 
Sebelumnya, Tiongkok masih belum memberikan rincian secara mendalam tentang bagaimana akan menanggapi tarif baru Amerika Serikat (AS) atas barang-barang dari Beijing. Meski demikian, Pemerintahan Xi Jinping siap memberlakukan tindakan balasan yang sesuai dari perang dagang yang masih berlangsung sampai sekarang ini.
 
"Jika AS dengan keras berpegang teguh pada caranya sendiri, Tiongkok tidak punya pilihan selain mengambil tindakan balasan yang sesuai. AS harus mengubah tindakannya yang salah," kata Juru Bicara Menteri Perdagangan Gao Feng, dalam bahasa Mandarin, dan diterjemahkan oleh CNBC.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif