Ilustrasi (TED ALJIBE/AFP)
Ilustrasi (TED ALJIBE/AFP)

Dolar AS Tertekan Data Negatif Ekonomi AS

Ekonomi dolar as
03 Juli 2019 09:32
New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Pelemahan terjadi karena data manufaktur yang lemah menunjukkan risiko penurunan ekonomi global.
 
Mengutip Antara, Rabu, 3 Juli 2019, indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,11 persen menjadi 96,7318 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1290 dari USD1,1285 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2602 dari USD1,2637 pada sesi sebelumnya.
 
Dolar Australia naik menjadi USD0,6987 dibandingkan dengan USD0,6957. Dolar AS dibeli 107,84 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 108,46 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9859 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9875 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3110 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3140 dolar Kanada.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) berakhir lebih tinggi pada Selasa waktu setempat (Rabu WIB), menutup sesi fluktuatif di tengah kekhawatiran atas potensi sengketa perdagangan AS-Uni Eropa. Sedangkan sengketa dagang antara AS dengan Tiongkok diharapkan bisa segera mereda dalam waktu dekat.
 
Indeks Dow Jones Industrial Average naik sebanyak 69,25 poin atau 0,26 persen menjadi 26.786,68. Sedangkan S&P 500 meningkat 8,68 poin atau 0,29 persen menjadi 2.973,01. Indeks Komposit Nasdaq naik 17,93 poin atau 0,22 persen menjadi 8.109,09.
 
Keuntungan Dow Jones dipimpin oleh saham Verizon Communications dan Cisco Systems yang terlihat terus menanjak. Pergerakan saham perusahaan naik masing-masing sebanyak 2,59 persen dan 1,95 persen. Diharapkan kondisi ini bisa terus membaik di masa-masa yang akan datang.
 
Sebanyak tujuh dari 11 sektor S&P 500 utama ditutup lebih tinggi, dengan real estat dan utilitas masing-masing naik 1,82 persen dan 1,24 persen. Sedangkan sektor energi, adalah kelompok dengan kinerja terburuk dengan mengalami penurunan sebanyak 1,74 persen.
 
Sementara itu, Pemerintah AS mengusulkan tarif tambahan USD4 miliar untuk barang Uni Eropa di tengah perselisihan mereka mengenai subsidi pesawat. Wall Street khawatir bahwa potensi pungutan baru akan lebih jauh merusak prospek ekonomi dan berdampak pada pendapatan perusahaan, para ahli mencatat.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif