Presiden Amerika Serikat Donald Trump. FOTO: AFP
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. FOTO: AFP

Trump Ingin Perusahaan AS Tinggalkan Tiongkok

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 31 Agustus 2019 15:05
Beijing: Ketika ketegangan perdagangan meningkat, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat (AS) menghadapi lingkungan yang semakin kompleks di Tiongkok. Sedangkan perusahaan-perusahaan Tiongkok mencari cara untuk bisa beradaptasi. Analis berpendapat semua itu dapat memberikan peluang baru bagi bisnis di Beijing.
 
Pada Jumat lalu, Tiongkok mengumumkan rencana untuk mengenakan bea tambahan atas barang-barang Amerika senilai USD75 miliar pada 1 September dan 15 Desember. Sebagai tanggapan, Presiden AS Donald Trump dalam cuitannya berencana akan menaikkan tarif USD550 miliar dari impor Tiongkok.
 
Pengumuman tarif putaran terbaru dalam beberapa hari terakhir mengartikan sampai akhir tahun semua barang Tiongkok yang diekspor ke AS akan dikenai bea tambahan. Kondisi itu yang pada akhirnya memberikan efek negatif berupa kembali memanasnya perang dagang antara Washington dengan Beijing.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meskipun itu menambah beban pada perusahaan Tiongkok, yang sudah menghadapi tekanan dari perlambatan ekonomi domestik, data dan analisis lainnya menunjukkan bisnis di daratan menemukan cara untuk tetap tangguh -bahkan jika itu kadang-kadang berarti menyerap biaya tarif.
 
"Saya meyakinkan ketegangan perdagangan Tiongkok-AS adalah situasi jangka panjang," kata mantan Wakil Menteri Perdagangan Tiongkok Wei Jianguo, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu, 31 Agustus 2019, seraya menambahkan bahwa Tiongkok telah membuat persiapan untuk menghadapi dampak negatif dari ketegangan perdagangan.
 
"Kami tidak takut," ungkap Wei, yang saat ini adalah wakil ketua dan wakil pejabat eksekutif di think tank Tiongkok Center for International Economic Exchange, yang berbasis di Beijing.
 
Dia menguraikan empat cara yang Tiongkok lakukan untuk memperkuat bisnisnya. Pertama, meningkatkan dukungan pemerintah. Kedua, menerapkan kebijakan seperti pemotongan pajak dan biaya. Ketiga, mengembangkan lingkungan operasi berkualitas tinggi untuk perusahaan milik negara dan asing.
 
Keempat, membuka saluran ke pasar internasional lainnya melalui program-program seperti zona perdagangan bebas dan Belt and Road Initiative -proyek infrastruktur besar-besaran yang dipimpin Beijing. Kesemuanya diyakini bisa membuat aspek bisnis Tiongkok di tengah perang dagang yang sedang berkecamuk.
 
Dua ekonomi terbesar dunia telah terlibat dalam konflik perdagangan yang meningkat selama lebih dari setahun. Perselisihan awalnya hanya berfokus pada defisit barang perdagangan besar antara AS dengan Tiongkok. Namun, dokus telah meluas ke sejumlah keluhan termasuk akses asing yang tidak merata ke pasar Tiongkok dan adanya transfer teknologi secara paksa.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif