Presiden AS Donald Trump saat bertemu Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un. (FOTO: AFP)
Presiden AS Donald Trump saat bertemu Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un. (FOTO: AFP)

Menkeu: Pertemuan Trump-Jong Un Sinyal Dunia Makin Adem

Ekonomi ekonomi global Amerika Serikat-Korea Utara
Desi Angriani • 27 Februari 2019 21:39
Jakarta: Pertemuan konferensi tingkat tinggi (KTT) antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un mendapat sorotan dunia. Pertemuan keduanya tersebut menjadi sinyal positif bagi kondisi ekonomi politik global.
 
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menilai Trump seolah ingin mengurangi tekanan ketidakpastian global dengan mendinginkan suasana antara AS dan Korea Utara. Selama ini hubungan kedua negara cenderung memanas, bahkan berseberangan.
 
Di sisi lain, sinyal tersebut semakin kuat setelah Trump berencana mengundang Presiden Tiongkok Xi Jinping ke kediamannya di Florida, AS untuk mendiskusikan kemungkinan berakhirnya perang dagang antardua negara dengan ekonomi terkuat di dunia itu.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pak Trump ingin berteman sama Kim Jong-Un, merasa sama-sama kayaknya sebagai brother gitu. Di saat bersamaan Trump akan mengundang Presiden Xi Jinping ke Florida untuk bisa mendiskusikan kemungkinan negosiasi perang dagang untuk bisa diakhiri," ujar Ani sapaannya dalam acara Diklat Hipmi Jaya 2019 di The Ritz-Carlton, Pacific Place, Jakarta, Rabu, 27 Februari 2019.
 
Meski ketidakpastian global berkurang dari sisi perang global, ekonomi dunia masih diperkirakan mengalami pelemahan. Kata Ani, bank dunia telah melakukan revisi pertumbuhan ekonomi 2019 sebanyak dua kali. Semula ekonomi dunia diproyeksi tumbuh di level 3,9 persen lalu kemudian dikoreksi menjadi 3,7 persen dan terakhir menjadi 3,5 persen.
 
"Ketidakpastian selama ini berkurang dari sisi adanya perang global namun dari sisi bahwa ekonomi tetap akan mengalami perlemahan tidak berubah," ungkap Ani.
 
Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian ekonomi Tiongkok yang cenderung mendorong pertumbuhan konsumsi dalam negerinya. Perubahan ini juga disertai oleh meredupnya pertumbuhan ekonomi AS meski diperkirakan masih berada di level 2,5 persen.
 
Namun pemerintah tetap berkomitmen menjaga stabilitas makroekonomi dalam negeri dengan mengendalikan inflasi, nilai tukar rupiah hingga menyesuaikan suku bunga. Hal ini demi menjaga momentum dan iklim investasi agar ekonomi Indonesia bertahan di tengah gempuran ketidakpastian global.
 
"Itu setiap jam diharapkan akan mampu menciptakan confidence," pungkas dia.
 
Trump sebelumnya telah berulang kali mengatakan Korut akan menjadi negara besar jika Kim mau mengakhiri program misil dan nuklir. "Dengan denuklirisasi menyeluruh, Korea Utara akan menjadi raksasa ekonomi," tulis Trump di Twitter. "Tanpa (denuklirisasi), mungkin hanya negara yang tidak jauh berbeda dari sekarang," lanjutnya.
 
Dalam tulisan terbaru di Twitter, Trump kembali menyinggung mengenai potensi besar Korut, asalkan Kim bersedia menanggalkan program nuklirnya secara menyeluruh.
 
Selain soal Kim dalam rangkaian cuitan yang sama, Trump juga menyerang Partai Demokrat yang dinilainya selalu mengkritik usaha mendekatkan AS dengan Korut. Seperti sebelum-sebelumnya, ia kembali menyalahkan Barack Obama atas sikap Washington terhadap Pyongyang di masa lalu.
 
"Demokrat seharusnya berhenti berbicara mengenai apa yang harus saya lakukan terhadap Korut, dan bertanya kepada diri sendiri, kenapa mereka tidak melakukan hal seperti saat ini delapan tahun lalu," ungkap Trump.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif