Ilustrasi (AFP PHOTO/MANDEL NGAN)
Ilustrasi (AFP PHOTO/MANDEL NGAN)

Mantan Pejabat Fed Nilai Suku Bunga AS Terlalu Tinggi

Ekonomi ekonomi amerika the fed
Husen Miftahudin • 24 Agustus 2019 15:04
New York: Mantan Presiden the Fed Minneapolis Narayana Kocherlakota sepakat dengan pendapat Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa suku bunga acuan terlalu tinggi. Meski setuju dengan tingkat suku bunga, namun dia tidak setuju dengan kritik yang dilontarkan Trump berkaitan dengan independensi bank sentral AS.
 
Kocherlakota tidak menampik kebijakan moneter yang diberlakukan the Fed sekarang ini terlalu ketat. "Saya setuju dengan Presiden di bidang ekonomi. Saya pikir mungkin bukan 100 basis poin (pemangkasan) yang dia sebutkan kemarin, tetapi secara umum saya pikir the Fed terlalu ketat," tuturnya, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 24 Agustus 2019.
 
Komentar itu muncul sehari setelah pernyataan terbaru Trump terhadap bank sentral AS. Dalam konteks itu, Trump berpendapat bahwa penurunan suku bunga 100 basis poin atau satu poin harus terjadi selama periode waktu yang cukup singkat. Trump, melalui cuitannya, menuduh Ketua Fed Jerome Powell dan rekan-rekannya memiliki visi yang mengerikan.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kocherlakota bertugas di the Fed dari 2009 hingga 2015 dan dianggap sebagai salah satu suara dovish terkemuka di lembaga itu. Artinya ia lebih menyukai suku bunga berada di level yang lebih rendah. Tepat ketika ia meninggalkan jabatannya, Komite Pasar Terbuka Federal, menyetujui kenaikan suku bunga acuan untuk pertama kali dalam satu dekade.
 
Setelah kenaikan awal itu, para pejabat the Fed menaikkan suku bunga acuan sebanyak delapan kali lagi sebelum memotong pada Juli 2019. "Saya pikir peran Presiden bukan untuk mengecam the Fed. Saya pikir itu dapat menyebabkan keraguan tentang kredibilitas Fed ke depan. Tidak banyak masalah sekarang," kata Kocherlakota.
 
Lebih lanjut, dia mengutip inflasi yang rendah sebagai alasan utama mengapa the Fed harus memotong suku bunga acuan pada Juli 2019. Adapun Komite menganggap inflasi di bawah dua persen adalah tingkat yang sehat, dan ekonomi belum mampu mempertahankannya selama pemulihan selama satu dekade.
 
"Ketika guncangan resesi datang, kami benar-benar ingin memiliki suku bunga yang jauh lebih rendah. Jika kita menaikkan suku bunga sekarang, kita hanya akan mencekik ekonomi," tukasnya.
 
Sementara itu, Ekonom Mohamed El-Erian mengatakan Federal Reserve tidak punya pilihan selain memangkas suku bunga lagi pada pertemuan kebijakan September. El-Erian, yang juga Kepala Penasihat Ekonomi Allianz melihat jika Fed tidak memangkas suku bunga acuan maka berisiko mengganggu pasar saham secara terus menerus.
 
"Pasar akan mendorong the Fed untuk melakukan (pemangkasan suku bunga acuan sebanyak) 50 basis poin. Ada yang mengatakan, 'Mengapa tidak melakukan pemotongan darurat?' Bankir bank sentral disandera oleh pasar," ungkap El-Erian.
 
Adapun indeks Dow Jones Industrial Average sempat ditutup turun 800 poin. Itu adalah kinerja terburuk di 2019. Sedangkan selisih antara imbal hasil surat utang Pemerintah AS bertenor 10 tahun dan dua tahun terbalik, menjadi sinyal yang diambil investor sebagai indikator resesi.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif