Perang Dagang Picu Tiongkok Perbesar Pengaruh di Ekonomi Global
Ilustrasi (Mark Ralston/AFP)
Hong Kong: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang sedang memanas mungkin mendorong ekonomi terbesar kedua di dunia untuk memenangkan pengaruh di ekonomi global. Meski demikian, efek dari perang dagang yang terjadi di antara kedua negara bisa memberikan reaksi buruk terhadap perekonomian dunia.

Kepala Penelitian Ekonomi CLSA Eric Fishwick menegaskan pergumulan perdagangan yang sedang berlangsung antara Washington dan Beijing benar-benar dapat mendorong Tiongkok untuk menopang ekonomi dan posisi geopolitiknya. Hal ini sejalan dengan sejumlah upaya yang terus dilakukan oleh Pemerintah Tiongkok dalam rangka mengantisipasi perang dagang.

"Ini mungkin memiliki reaksi buruk karena mempercepat upaya Tiongkok menjadi swasembada (dalam) produk berteknologi tinggi dan lebih banyak. Dan itu pasti akan mendorong Tiongkok dalam gerakannya untuk membangun lebih banyak dan lebih banyak pengaruh politik dan ekonomi global," kata Fishwick, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 11 September 2018.

Dia menunjuk pada inisiatif Belt and Road yang merupakan sebuah program infrastruktur dan investasi yang secara luas dilihat sebagai upaya oleh Tiongkok untuk membangun zona pengaruh ekonomi dan politik multi-nasional yang sangat besar di mana Beijing sebagai pusatnya.



Di bidang pembangunan ekonomi, Tiongkok telah berada di sebuah misi untuk bergerak ke arah industri teknologi tinggi dengan rencana Made in Tiongkok 2025 yang berusaha untuk membangun kekuatan manufaktur di bidang-bidang seperti robotika dan kendaraan listrik. Hal ini bisa mendorong Tiongkok sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia.

Adapun asal-usul perang perdagangan, Fishwick mengatakan, kepentingan politik memainkan peran penting. Negosiasi yang sedang berlangsung terkait sengketa pedagangan, lanjutnya, sebagian karena AS menjadi tidak nyaman dengan kekuatan ekonomi Tiongkok yang semakin besar.

"Ini benar-benar karena Tiongkok adalah pesaing geopolitik dan geopolitik berikutnya ke AS, dan AS tidak nyaman dengan itu. Saya tidak percaya bahwa kedua pihak akan secara khusus (bersedia) berkompromi karena itu lebih merupakan masalah politik daripada hanya masalah perdagangan," pungkasnya.

Kekhawatiran meningkatnya ketegangan perdagangan kembali meningkat ketika Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa dia siap untuk mengenakan tarif pada USD267 miliar barang Tiongkok lainnya, di atas tarif senilai USD200 miliar yang sudah diancamkan sebelumnya kepada Tiongkok.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id