Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)
Ilustrasi (AFP PHOTO/Bryan R. Smith)

S&P 500 Diprediksi Melonjak 15% di Semester II-2019

Ekonomi ekonomi amerika
Angga Bratadharma • 20 Juli 2019 14:04
New York: Kepala Investasi Global Guggenheim Scott Minerd memperkirakan S&P 500 dapat naik 15 persen dan mendekati level 3.500 sebelum akhir 2019. Ia yakin hal itu dapat tercapai jika membandingkan dengan lingkungan pasar saham saat ini dengan reli pasar saham yang terjadi di 1998 di tengah penurunan suku bunga AS.
 
Scott Minerd mengatakan kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve dan bank sentral di seluruh dunia akan meningkatkan kinjera pasar saham sebelum akhir tahun. Tentu hal tersebut dengan harapan juga didukung oleh situasi dan kondisi perekonomian dunia, termasuk sejumlah masalah yang bisa segera diselesaikan.
 
"Reli ini -apakah Anda melihat obligasi, saham dengan hasil tinggi atau apapun yang Anda inginkan- semuanya didorong oleh likuiditas. Dan bank-bank sentral di seluruh dunia pada dasarnya memberi isyarat bahwa mereka akan menginjak pedal gas (untuk melonggarkan kebijakan moneter)," kata Minerd, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 20 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


S&P 500 naik 17 persen dalam enam bulan pertama tahun ini dan merupakan paruh pertama terbaik untuk indeks sejak 1997. Sedangkan the Fed secara luas diperkirakan memangkas suku bunga pada akhir bulan, karena inflasi domestik dan pertumbuhan upah melambat dalam beberapa bulan terakhir dan pertumbuhan ekonomi internasional juga melemah.
 
Minerd membandingkan dengan kondisi pasar saham saat ini dengan di 1998, ketika Fed memangkas suku bunga dalam tiga bulan berturut-turut di tengah kekhawatiran tentang krisis ekonomi di Asia. S&P 500 naik lebih dari 28 persen dalam empat bulan terakhir pada tahun itu.
 
"Yang harus Anda lakukan adalah melihat ulang krisis Asia kembali pada 1998, dan Anda mendapatkan saham pada tingkat yang saya bicarakan," kata Minerd.
 
Minerd menambahkan baik perekonomian Eropa maupun Tiongkok tidak mampu melambat dan the Fed telah menekan semacam tombol panik. "Anda akan melihat uang mengalir keluar dari bank sentral ke obligasi, yang akan membebaskan modal dan yang secara alami menemukan tempat lain untuk bermigrasi. Dan akhirnya akan berakhir di tangan saham," kata Minerd.
 
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Tiongkok tidak membeli produk pertanian AS di tengah upaya dua negara ekonomi terbesar di dunia berupaya untuk mengakhiri perang dagang yang sedang terjadi hingga sekarang ini. Adapun negosiasi kembali berlanjut dan diharapkan bisa mencapai kata sepakat.
 
Dalam cuitannya di Twitter, Trump mengatakan Beijing telah mengecewakan AS dengan tidak membeli produk pertanian Amerika. "Bahwa mereka mengatakan akan melakukannya (membeli produk pertanian AS)," kata Trump, dalam cuitannya.
 

(ABD)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif