Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. FOTO: Brendan Smialowski/AFP
Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. FOTO: Brendan Smialowski/AFP

Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok Fase Satu Tidak Selesaikan Semua Masalah

Ekonomi ekonomi amerika ekonomi china tiongkok as-tiongkok Perang dagang
Angga Bratadharma • 09 November 2019 13:02
New York: Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Larry Summers mengatakan kesepakatan perdagangan fase satu yang dicapai AS dan Tiongkok tidak akan menyelesaikan semua masalah ekonomi global saat ini. Adapun perang dagang yang terjadi antara kedua negara hingga sekarang masih memberikan efek negatif terhadap ekonomi global.
 
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump mengaku, kedua negara sedang mencari lokasi untuk menandatangani kesepakatan parsial yang dapat berlangsung bulan ini. Perkembangan itu telah memicu optimisme baru-baru ini di pasar keuangan. Bahkan, bursa saham Amerika Serikat sempat merekah akibat kabar positif tersebut.
 
"Tapi saya pikir kita akan bercanda jika kita pikir satu upacara penandatanganan bisa menjadi semacam 'surga' ekonomi. Ada masalah yang lebih dalam dan lebih besar yang menghambat ekspansi global yang cepat," kata Summers, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 9 November 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pertumbuhan ekonomi global telah melambat sejak tahun lalu -bertepatan dengan dimulainya perang dagang AS-Tiongkok. Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan dalam sebuah laporan bahwa ekonomi global diproyeksikan tumbuh tiga persen di tahun ini atau lebih lambat dari 3,6 persen tahun lalu dan 3,8 persen pada 2017.
 
Jika kedua belah pihak menandatangani kesepakatan parsial seperti yang direncanakan, Summers menyatakan, masih tetap akan ada ketegangan dan ketidakpastian besar antara kedua negara yang akan membebani ekonomi global. Potensi tersebut yang seharusnya segera diantisipasi agar tidak merembet ke hal lain dan membesar.
 
Adapun komentarnya menggemakan sentimen analis lain dan eksekutif perusahaan yang masih memiliki kekhawatiran tentang pencurian properti intelektual AS dan transfer teknologi paksa oleh AS akan membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan. Hal ini juga sejalan dengan negosiasi di antara kedua negara yang sebelumnya sering alot.
 
Summers menjabat sebagai Sekretaris Keuangan AS di bawah kepemimpinan Presiden AS Bill Clinton kala itu, dan merupakan penasihat ekonomi untuk Presiden Barack Obama. Dia sekarang menjadi profesor di Universitas Harvard.
 
Di sisi lain, Tiongkok mendorong Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghapus lebih banyak tarif, menyusul kesepakatan dagang fase satu yang akan ditetapkan dua negara besar. Kesepakatan yang disebut-sebut bakal ditandatangani pada 15 Desember itu setidaknya akan memangkas USD156 miliar barang yang diimpor dari Tiongkok.
 
Pejabat AS mengatakan kelanjutan 15 Desember sedang dipertimbangkan sebagai bagian dari negosiasi. Sementara negosiator dari Tiongkok ingin Washington menurunkan tarif 15 persen pada barang-barang Tiongkok senilai USD125 miliar yang mulai berlaku pada 1 September.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif