Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. FOTO: Nicolas ASFOURI/AFP
Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. FOTO: Nicolas ASFOURI/AFP

Kesepakatan Dagang Fase Satu AS Tiongkok Bisa Jadi Bencana Buat AS

Ekonomi as-tiongkok Perang dagang
Nia Deviyana • 22 Januari 2020 15:32
Davos: Kesepakatan dagang fase satu antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sebagian besar dianggap mampu meredakan ketidakpastian global akibat perang dagang. Namun, beberapa ahli menilai itu sebagai bencana dan hanya bersifat sementara dalam meredakan ketegangan.
 
Melansir CNBC International, Rabu, 22 Januari 2020, beberapa pakar perdagangan di World Economy Forum (WEF) menilai kesepakatan fase satu AS-Tiongkok tidak membahas masalah struktural dalam hubungan perdagangan bilateral. Hal tersebut terlihat dari tidak dibatalkannya tarif-tarif yang diberlakukan antara Washington dan Beijing, dan sepakat bakal membahas itu di fase perdagangan berikutnya.
 
“Meskipun kesepakatan ini luar biasa, dalam arti telah meredakan berbagai hal, yang mana tarif tambahan tidak diberlakukan. Namun, kesepakatan itu pada dasarnya adalah bencana. Itu tidak membahas masalah sistemik apa pun," ujar rekan senior di Peterson Institute for International Economics, Chad Brown.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Bown, yang juga menjabat sebagai ekonom senior untuk perdagangan internasional di Gedung Putih pada kepemimpinan Obama mengaku sangat khawatir terkait perjanjian tersebut.
 
Adapun Tiongkok setuju menambah pembelian barang-barang AS senilai USD200 miliar selama dua tahun ke depan sebagai bagian dari kesepakatan. Presiden Donald Trump, yang berpidato di forum Davos pada Selasa, mengatakan jumlah pembelian bisa saja mendekati USD300 miliar.
 
"Ini adalah angka-angka yang tidak realistis, yang mempertanyakan kelayakan seluruh kesepakatan,” kata Bown.
 
Di antara pembelian tambahan barang-barang AS, Tiongkok berkomitmen untuk membeli setidaknya produk pertanian Amerika senilai USD40 miliar. Namun, ahli komoditas di Goldman Sachs, Jeff Currie meragukan Tiongkok akan berhasil melakukannya.
 
Jeff menilai, masih banyak ketidakpastian, utamanya tentang bagaimana Tiongkok dapat memenuhi nagka tersebut.
 
Di sisi lain, pakar lain menilai kesepakatan itu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, dan fase terberat dari kesepakatan justru belum dimulai.
 
"Ketika perhatian kita tertuju pada kesepakatan fase satu, ini adalah bagian yang mudah. Anda dapat meminta orang-orang Tiongkok membeli lebih banyak barang AS, dan entah bagaimana konsumen Tiongkok harus menyerap USD2,4 miliar kacang AS dan mengucapkan selamat tinggal kepada Selandia Baru dan Australia ... tapi itu bagian yang mudah," kata associate professor di London School of Economics (LSE), Jin Keyu.
 
Adapun bagian yang sulit, kata Keyu, yakni model ekonomi politik Tiongkok yang menggunakan kapasitas negara yang kuat.
 
Selama ini, salah satu argumen utama yang digunakan oleh Presiden AS Donald Trump dalam perselisihannya adalah defisit perdagangan antara kedua negara. Data yang dirilis awal bulan ini menunjukkan bahwa defisit perdagangan AS dengan Tiongkok turun menjadi USD43,09 miliar, level terendah sejak Oktober 2016.
 
"Ironi utamanya adalah jika Tiongkok benar-benar melakukan semua yang diminta AS, hasilnya adalah ekonomi Tiongkok bisa jauh lebih sukses dan defisit perdagangan yang jauh lebih besar di AS," katanya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif