Menyinggung pengalaman Jepang yang telah berjuang atas krisis perbankan domestik di akhir 1990-an, Kuroda mengatakan, kondisi itu benar-benar membutuhkan waktu yang terbilang lama untuk memecahkan atau menyelesaikan persoalan di industri perbankan di mana penundaan penyelesaian memberi efek buruk bagi perekonomian.
"(Penyelesaian persoalan) ini diperlukan untuk mengidentifikasi masalah dengan cepat dan menangani masalah ini secepat mungkin," kata Kuroda, ketika ditanya mengenai kesengsaraan sistem keuangan Eropa termasuk kekhawatiran atas keadaan keuangan Deutsche Bank, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/10/2016).
Namun, ia menambahkan, tidak ada satu ukuran yang cocok terhadap semua solusi permasalahan karena sistem keuangan di masing-masing negara dan industri perbankan memiliki fitur dan karakteristik tersendiri. Terpenting dari itu semua adalah bagaimana mempercepat penyelesaian persoalan.
"Saya berharap pihak berwenang Eropa untuk mengambil tindakan guna memecahkan masalah di sektor perbankan mereka secara segera," kata Kuroda, sebelum menghadiri pertemuan kelompok pemimpin keuangan.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) berpandangan bahwa kesengsaraan sistem keuangan Eropa memberi risiko terhadap pertumbuhan ekonomi global. Namun, kondisi itu tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap ekonomi Eropa dan ekonomi dunia.
Lebih lanjut, Kuroda menyatakan, pihaknya akan menjelaskan kepada rekan-rekan di G20 bahwa BoJ telah membuat komitmen cukup kuat dengan berjanji mempertahankan kebijakan moneter yang lonnggar sampai tingkat inflasi stabil dan melampui target inflasi dua persen.
"Saya tidak berpikir bahwa kebijakan moneter telah mencapai batas," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News