Atase Perdagangan dan Bisnis Kedutaan Besar Tiongkok di Indonesia Wang Liping berbicara mengenai keberadaan Indonesia dalam One Belt, One Road (OBOR) atau Satu Sabuk, Satu Jalan. Menurut dia, Indonesia adalah negara penting di dalam One Belt, One Road. Simak wawancara khusus jurnalis Medcom.id Maggie Calista bersama Wang Liping berikut ini.
Bagaimana keseluruhan perkembangan OBOR saat ini? Apakah jumlah negara yang mengikuti strategi tersebut terus meningkat? Berapa banyak negara yang diharapkan dapat berpartisipasi dalam kebijakan ini?
Setelah diajukan, gagasan OBOR telah memperoleh pengakuan serta dukungan yang semakin banyak dari negara-negara di seluruh dunia. Lingkaran persahabatan pun semakin lama semakin besar. Sejauh ini sudah ada 123 negara dan 29 organisasi internasional yang bergabung. Lingkaran persahabatan yang sudah saya sebutkan tadi akan terus meluas sehingga daftar negaranya akan bertambah panjang. Kami percaya bahwa di masa depan, kerja sama ini akan memberi hasil yang lebih bermanfaat.
Indonesia adalah negara penting di sepanjang OBOR. Sebagai dua negara yang kaya akan sumber daya dan berpenduduk padat, Tiongkok serta Indonesia harus memiliki komplementaritas yang kuat dalam masalah sumber daya, industri, maupun struktur komoditas ekspor-impor.
Defisit perdagangan terbesar Indonesia dengan Tiongkok adalah USD2,43 miliar. Bagaimana pendapat Anda?
Memang betul data tersebut adalah defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok. Sejak awal tahun ini, sudah mencapai lebih dari USD2 miliar di Januari dan USD3,9 miliar pada Maret. Tapi saya pikir perubahan defisit perdagangan antara kedua negara terutama disebabkan oleh struktur ekonomi serta struktur perdagangan mereka sendiri. Kita tidak bisa menilai apakah kerja sama perdagangan antara kedua negara itu sehat hanya dari angka defisit perdagangan.
Kenyataannya komoditas ekspor Tiongkok ke Indonesia adalah produk teknologi tinggi, produk mekanik, dan listrik yang dibutuhkan oleh pasar Indonesia. Lalu produk-produk mekanik dan listrik ini ditarik oleh investasi perusahaan Tiongkok kami di sini. Dengan kata lain, perlu waktu untuk investasi. Mungkin dalam beberapa tahun pertama, efeknya belum terlalu jelas. Kemudian, dua atau tiga tahun setelah berdirinya, efek tarikan tersebut akan menjadi makin terlihat, kapasitas ekspor Indonesia akan meningkat, dan kemudian defisit perdagangan akan membaik.
Selain itu, permintaan untuk Tiongkok dapat disesuaikan, dan permintaan untuk Indonesia juga bisa berubah, jadi kami berpikir bahwa propaganda tim ekspor Indonesia juga sangat penting. Sejak peluncuran Tiongkok Import Expo, ada lebih dari 40 perusahaan Indonesia telah diundang untuk berpartisipasi dalam pameran tersebut. Perusahaan-perusahaan Indonesia menandatangani lebih dari USD4,7 miliar di Tiongkok Import Expo. Penandatanganan aktualnya USD500 juta dan telah memainkan peran penting dalam ekspansi ekspor. Oleh karena itu, kita dapat memperkuat kerja sama antar kedua belah pihak di masa depan, meningkatkan publisitas dan promosi produk Indonesia. Untuk meminimalkan defisit antara kedua negara agar akhirnya mampu mencapai keseimbangan.
Kondisi menguntungkan apa yang ditawarkan Tiongkok kepada Indonesia? Tantangan terbesar apa yang dihadapi sehubungan dengan OBOR?
Indonesia adalah negara terbuka pertama di Jalur Sutra bidang maritim yang ditawarkan Tiongkok. Tahun lalu, kedua negara telah menandatangani memorandum berkaitan dengan OBOR dan kekuatan maritim. Indonesia juga telah mengajukan proposal koridor ekonomi regional, yang juga telah mendapat respons positif dari perusahaan Tiongkok, dan kedua belah pihak telah menandatangani nota kerja sama.
Bulan ini pertemuan pertama antara pemerintah Tiongkok dan Indonesia tentang bagaimana mempromosikan koridor ekonomi akan diadakan di Bali. Saya percaya bahwa pertemuan ini nantinya mendorong perkembangan kerja sama antara kedua negara secara bertahap. Selain itu, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengunjungi Indonesia dan menekankan bahwa impor minyak sawit Indonesia akan diperkuat 500 ribu ton. Menurut statistik kami, Tiongkok mengimpor lebih banyak minyak sawit dari Indonesia tahun lalu, meningkat 600 ribu ton dibandingkan 2017. Dengan kata lain, perluasan ekspor minyak sawit Indonesia juga memainkan peran penting dalam menyeimbangkan perdagangan antara kedua negara.
Dari perspektif Pemerintah Tiongkok, apa tanggapan Indonesia terhadap OBOR? Sampai level mana kemitraan ini dapat berkembang?
Saya pikir kerja sama antara Tiongkok dan Indonesia memiliki ruang yang luas dan berbagai bidang, tidak hanya terbatas pada perdagangan, kontrak proyek, tetapi untuk ke depannya juga lebih banyak di bidang investasi. Bidang investasi sendiri memiliki prospek luas pada ranah teknologi tinggi, pertanian, taman industri dan sektor kerja sama lainnya. Namun, kedua belah pihak perlu merencanakan matang-matang kondisi yang relevan untuk memastikan kelancaran kerja sama.
Selama ini kebijakan luar negeri Tiongkok tidak pernah mengintervensi masalah politik negara manapun. Apakah One Belt, One Road akan mengubah hal tersebut, mengindikasikan Tiongkok akan mengambil bagian yang lebih aktif dalam urusan negara lain?
Tiongkok selalu mengupayakan kebijakan kemerdekaan dan non-campur tangan mengenai urusan internal negara-negara lain. Hal seperti itu tidak akan terjadi, tidak peduli betapa baiknya hubungan kerja sama OBOR atau kerja sama bisnis biasa di antara kedua negara. Semuanya didasarkan pada rasa saling percaya, saling pengertian, dan sumber daya. Investasi yang semacam ini, yang mencampuri hal-hal internal salah satu pihak, tidak ada sama sekali dan tidak ada alasan untuk itu.
Indonesia berada di peringkat keempat dunia dengan populasi 256 juta, menurut CIA World Factbook. 60 persen populasi Indonesia berusia antara 15-54 tahun. Apakah angka ini memberikan SDM yang menguntungkan untuk mengurangi defisit perdagangan? Apa yang dapat dipelajari Pemerintah Indonesia dari kebijakan Tiongkok untuk mengembangkan kebutuhan SDM?
Faktanya, ini adalah bonus demografi, kekuatan pendorong yang paling penting untuk pengembangan negara-negara berkembang. Pengalaman negara Tiongkok adalah bahwa pada tahap awal reformasi dan keterbukaan, bonus demografi negara kami memainkan peran penting dalam membawa reformasi ekonomi dan pembangunan ekonomi.
Kita tahu bahwa permintaan dari populasi muda ini sangat kuat, terutama untuk perumahan, hiburan, makanan, perumahan, dan transportasi. Jika masyarakat menua, cenderung hanya membutuhkan produk perawatan kesehatan dan layanan rumah sakit, sementara kebutuhannya yang lain sangat lemah. 60-70 persen dari populasi Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Tuntutan ini akan menentukan masa depan kerja sama Tiongkok dan Indonesia. Ada banyak peluang, terutama dalam bahan bangunan, real estat, manufaktur, pariwisata, dan sebagainya.
McKinsey & Company, sebuah konsultan, percaya bahwa 90 juta orang Indonesia akan bergabung dengan kelas menengah atau menjadi konsumen pada 2030, menjadikannya pasar konsumen baru terbesar di dunia selain Tiongkok dan India. Bagaimana menurut Anda Indonesia dapat berkembang, berada dalam perekonomian dunia, dan tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemasok dunia?
Populasi Indonesia sekarang mendekati 270 juta orang, dengan rata-rata per kapita hampir USD4.000. Butuh waktu enam tahun bagi Tiongkok untuk beralih dari hampir USD4.000 menjadi USD6.000. Sementara di bawah kepemimpinan pemerintah beberapa tahun ini, perkembangan ekonomi Indonesia sangat stabil dan pendapatan per kapita telah meningkat menjadi USD8.000. Saya rasa untuk masalah ini juga mencapai sekitar enam hingga delapan tahun. Mungkin setengah dari populasi Indonesia telah memasuki pendapatan menengah, yang berarti ada kelompok konsumen besar dan sudah pasti juga merupakan sumber utama pasokan jasa dan produk manufaktur.
Indonesia telah menjadi anggota penuh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 1995 dan anggota ASEAN. Sekarang Indonesia memiliki lima perjanjian perdagangan bebas regional dan dua perjanjian perdagangan bebas bilateral. Tiongkok termasuk dalam tiga peringkat teratas dari mitra-mitra dagang Indonesia. Bagaimana kita dapat menggunakan perjanjian perdagangan bebas dan meningkatkan volume ekspor produk?
Gagasan inti dari perjanjian perdagangan bebas adalah untuk meningkatkan fasilitas perdagangan. Mengurangi tarif secara langsung berarti mengurangi tarif menjadi nol dan benar-benar ingin kami terapkan secara praktek. Kami tahu bahwa perbedaan antar negara pasti dapat membawa negatif dalam perjanjian perdagangan bilateral. Jadi kami berharap untuk mempromosikan pengembangan perdagangan Indonesia dengan Tiongkok ini, termasuk pula negara-negara lain, melalui pengaturan fasilitas perdagangan yang lebih banyak.
Fasilitas perdagangan untuk mempromosikan pengembangan perdagangan antara Tiongkok dan negara-negara lain di Indonesia --terutama adalah 21p-- akan menjadi badan perdagangan bebas terbesar di dunia. Jadi sekarang Indonesia bergabung, sedang bernegosiasi, dan kami berharap dapat bekerja sama dengan Indonesia untuk mengimplementasikannya sesegera mungkin.
Apa itu 21p?
21p adalah regional comprehensive economic parternship atau kemitraan komprehensif regional.
Sudahkah Anda menandatanganinya?
Sekarang masih dalam diskusi.
Kapan perjanjian ini akan ditandatangani?
Sekarang ini negara-negara anggota masih menegosiasikan ketentuan-ketentuan khusus di dalamnya.
Produk-produk mekanik dan listrik menyumbang setengah dari total impor Indonesia dari Tiongkok, dengan impor USD4,39 miliar pada Januari-Maret, meningkat 23,9 persen, serta menyumbang 43,7 persen dari total impor Indonesia dari Tiongkok. Menurut Anda apakah Tiongkok dapat menggerakkan proyek-proyek Indonesia terkait mekanik dan listrik dalam waktu dekat lalu mengekspornya ke dunia?
Dengan kerja sama dan pengembangan bilateral, produk mekanik dan listrik adalah produk paling penting yang dibutuhkan oleh pembangunan ekonomi Indonesia, mereka tidak hanya dapat meningkatkan level teknis Indonesia, tetapi juga mempromosikan pengembangan ekonomi Indonesia dan melatih sejumlah besar personel. Dalam proses menyerap dan memperkenalkan, industri manufaktur Indonesia malah akan meningkat, misalnya, misalnya, dua industri mobil di Tiongkok telah memasuki Indonesia, satu adalah SAIC Wuling dengan produksi tahunan 150 ribu unit, yang lain adalah keluaran tahunan sebanyak 50 ribu unit.
Mereka telah berinvestasi dalam pembangunan pabrik. Saya mendengar bahwa SAIC Wuling telah memperkenalkan dan menyerap produk-produk Tiongkok ke negara-negara lain di masa depan, dan juga dapat meningkatkan kemampuan ekspor ke negara-negara sekitarnya.
Dengan perkembangan OBOR dan masuknya perusahaan Tiongkok ke pasar Indonesia, investasi Tiongkok di Indonesia juga meningkat signifikan. Semakin aktif Indonesia dalam membuka dan berinvestasi, pemerintah juga harus mempertimbangkan secara hati-hati pro dan kontranya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News