Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Wall Street Terjun Bebas, S&P 500 Sentuh Level Terendah: Ini Biang Keroknya

Angga Bratadharma • 30 September 2022 06:39
New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) terpantau turun tajam pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat pagi WIB), karena aksi jual kembali terjadi di Wall Street. Sejauh ini para pedagang terus mengkhawatirkan terjadinya resesi akibat The Fed terus aktif menaikkan suku bunga guna memerangi inflasi.
 
Mengutip Xinhua, Jumat, 30 September 2022, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 458,13 poin atau 1,54 persen menjadi 29.225,61. Sedangkan indeks S&P 500 turun 78,57 poin atau 2,11 persen menjadi 3.640,47 di penutupan terendah baru untuk tahun ini. Indeks Komposit Nasdaq turun 314,13 poin atau 2,84 persen menjadi 10.737,51.
 
Semua 11 sektor utama S&P 500 ditutup di wilayah merah, dengan sektor utilitas dan konsumen masing-masing turun 4,07 persen dan 3,38 persen, memimpin kerugian. Saham Apple jatuh 4,9 persen pada Kamis waktu setempat setelah analis Bank of America menurunkan peringkat saham menjadi netral dari beli.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi ekonomi, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim pengangguran awal negara, cara kasar untuk mengukur PHK, turun 16 ribu menjadi 193 ribu dalam pekan yang berakhir 24 September. Angka tersebut, level klaim terendah sejak akhir April, menguat akibat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan melanjutkan kampanye kenaikan suku bunganya.
Baca: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Paling Tinggi di G20, Bangga Aku Tuh..

Setelah periode penurunan tanpa henti, Wall Street bangkit kembali pada Rabu waktu setempat dengan Dow ditutup naik lebih dari 500 poin. "Kami tetap skeptis suasana yang lebih tenang di pasar pada Rabu menandai berakhirnya periode baru-baru ini dari peningkatan volatilitas atau sentimen risk-off," kata Analis UBS dalam sebuah catatan.
 
"Untuk reli yang lebih berkelanjutan, investor perlu melihat bukti yang meyakinkan bahwa inflasi terkendali dan memungkinkan bank sentral menjadi kurang hawkish. Belokan ini, menurut pandangan kami, masih jauh," kata mereka.
 
Ekuitas AS telah terpukul tahun ini di tengah kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan agresif The Fed dapat melemparkan ekonomi ke dalam resesi. Kendati demikian, bank sentral AS tetap berkomitmen menaikkan suku bunga untuk menahan ledakan inflasi.

 
(ABD)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif