Vending machine TAG-LIVE! CARD milik Suntory yang dapat mencetak konten digital menjadi kartu akrilik. (Foto: Suntory).
Vending machine TAG-LIVE! CARD milik Suntory yang dapat mencetak konten digital menjadi kartu akrilik. (Foto: Suntory).

Vending Machine Jepang Mulai Berubah, Tak Lagi Cuma Jual Minuman

Arif Wicaksono • 12 Agustus 2026 08:00
Ringkasnya gini..
  • Vending machine yang selama ini menjadi salah satu ciri khas Jepang mulai menghadapi perubahan akibat turunnya permintaan.
  • Jumlah vending machine minuman di Jepang turun menjadi 1,95 juta unit pada 2025, pertama kalinya berada di bawah dua juta.
  • Perusahaan mulai mengubah fungsi vending machine dengan menawarkan produk selain minuman untuk mempertahankan bisnis.

Tokyo: Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan vending machine atau mesin penjual otomatis yang mudah ditemukan di berbagai tempat. Mesin tersebut selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang, terutama untuk membeli minuman dengan cepat.

Baca juga: Semarak Indonesia Day 2026 di Hiroshima: Ribuan Orang Ikut Upacara HUT RI hingga Lomba Makan Kerupuk

Namun, bisnis vending machine di Jepang kini mulai menghadapi tantangan. Jumlah mesin penjual minuman terus berkurang seiring perubahan kebiasaan konsumen dan meningkatnya biaya operasional.

Jumlah Vending Machine Mulai Menurun

Dilansir dari Asia News Network yang mengutip The Yomiuri Shimbun, jumlah vending machine yang menjual minuman ringan di Jepang mencapai sekitar 1,95 juta unit pada 2025, turun sekitar 90 ribu unit dibandingkan tahun sebelumnya.
 
Angka tersebut turun sekitar 90 ribu unit dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah itu juga menjadi yang terendah dalam sekitar tiga dekade dan untuk pertama kalinya berada di bawah dua juta unit sejak data tersebut mulai dihimpun.
 
Penurunan tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam bisnis yang selama ini menjadi salah satu ciri khas Jepang.

Salah satu penyebabnya adalah konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan untuk membeli minuman. Minimarket, supermarket, dan toko obat dapat menawarkan produk dengan harga yang lebih murah dibandingkan vending machine.
 
Selain itu, kenaikan harga produk dan biaya operasional membuat bisnis vending machine semakin sulit dipertahankan.

Konsumen Mulai Memilih yang Lebih Murah

Dilansir dari Asia News Network yang mengutip The Yomiuri Shimbun, perusahaan minuman Jepang menghadapi penurunan permintaan di tengah kenaikan harga dan kecenderungan konsumen untuk lebih berhemat.
 
Kenaikan harga juga membuat perbedaan harga antara vending machine dan toko ritel semakin terasa. Konsumen kemudian beralih membeli minuman di convenience store yang menawarkan pilihan harga lebih fleksibel.
 
Di sisi lain, perusahaan harus menanggung berbagai biaya untuk menjaga vending machine tetap beroperasi, mulai dari listrik, distribusi hingga pemeliharaan mesin. Kondisi tersebut membuat keuntungan dari bisnis vending machine semakin tertekan.
 
Akibatnya, sejumlah perusahaan mulai mengurangi jumlah mesin yang dianggap tidak lagi menguntungkan.
 
DyDo Group Holdings, misalnya, yang dilansir dari Asia News Network mengumumkan rencana mengurangi sekitar 20 ribu vending machine yang tidak menguntungkan dari total sekitar 270 ribu mesin di Jepang. Sementara itu, Pokka Sapporo Food & Beverage memutuskan menjual bisnis vending machine kepada Lifedrink Company.

Vending Machine Mulai Jual Barang Lain

Meski jumlahnya menurun, perusahaan tidak serta-merta meninggalkan bisnis vending machine.
Justru, sejumlah perusahaan mulai mencari cara baru agar mesin tersebut kembali menghasilkan pendapatan.
 
The Straits Times melaporkan, Uniqlo mulai memasang vending machine yang menjual payung dan kacamata hitam di Yomiuri Land, Tokyo, pada Juli 2026. Mesin tersebut menjadi vending machine pertama Uniqlo di Jepang.
 
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa vending machine mulai dipandang bukan hanya sebagai tempat menjual minuman, tetapi juga sebagai saluran penjualan produk lainnya.
 
Perusahaan minuman Jepang juga mulai mencoba memanfaatkan mesin untuk menjual produk yang berkaitan dengan penggemar anime dan musik. Salah satunya dilakukan Suntory Beverage & Food yang mengembangkan vending machine untuk mencetak kartu akrilik berdasarkan gambar yang diunggah konsumen.
 
ChosunBiz melaporkan, mengutip Nikkei Asia, vending machine tersebut menyasar penggemar anime, musik, konser, dan acara olahraga. Konsumen dapat mengunggah gambar mereka dan mencetaknya menjadi kartu akrilik melalui mesin tersebut.
Bisnis Lama dengan Cara Baru
 
Perubahan vending machine di Jepang menunjukkan bagaimana sebuah bisnis harus beradaptasi ketika kebiasaan konsumen berubah.
 
Mesin yang sebelumnya mengandalkan penjualan minuman kini mulai digunakan untuk menjual berbagai produk lain. Strategi tersebut memungkinkan perusahaan memanfaatkan jaringan mesin yang sudah tersedia tanpa harus sepenuhnya membangun model bisnis baru dari awal.
 
Bagi Jepang, perkembangan ini juga menunjukkan bagaimana teknologi sederhana dapat terus digunakan untuk mengikuti perubahan pasar.
 
Vending machine mungkin tidak lagi sebanyak sebelumnya. Namun, selama perusahaan mampu menemukan produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen, mesin tersebut masih memiliki peluang untuk bertahan sebagai bagian dari bisnis ritel Jepang.
 
(Ellen Octovia Suherman)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan