Bursa Saham Asia. Foto : MI.
Bursa Saham Asia. Foto : MI.

Saham Asia Rontok karena Investor Ketar-Ketir Kenaikan Inflasi Global

Antara • 19 Mei 2022 10:51
Beijing: Pasar saham Asia mengikuti aksi jual Wall Street yang curam pada perdagangan Kamis pagi, karena investor resah atas kenaikan inflasi global, kebijakan nol covid Tiongkok, dan perang Ukraina. Sementara mata uang safe haven dolar AS mempertahankan sebagian besar kenaikannya yang kuat semalam.
 
Dikutip dari Antara, Kamis, 19 Mei 2022, Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang merosot dua persen pada awal jam perdagangan Asia, penurunan harian pertama dalam seminggu. Indeks Nikkei Jepang juga tergelincir 2,4 persen. Indeks saham Australia yang sarat sumber daya menurun 1,5 persen, saham Hong Kong terpangkas 2,6 persen, dan saham-saham unggulan Tiongkok daratan melemah 1,0 persen.
 
Semalam di Wall Street, laporan pendapatan dari raksasa ritel memperburuk sentimen, dengan Target Corp memperingatkan margin yang lebih besar terkena, karena kenaikan biaya bahan bakar dan pengiriman ketika melaporkan laba kuartalan telah berkurang setengahnya. Sehari sebelumnya, Walmart memperingatkan tekanan margin yang serupa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saham Target Corp anjlok 24,88 persen, persentase penurunan satu hari terbesar sejak kehancuran pasar saham Black Monday pada 19 Oktober 1987. Pada Rabu, 18 Mei 2022 Nasdaq jatuh hampir 5,0 persen, sementara S&P 500 kehilangan 4,0 persen.
 
Analis Pasar di IG Hebe Chen mengatakan kenaikan pada Selasa, 17 Mei 2022, terbukti 'terlalu optimistis', sehingga keraguan diri yang berasal dari salah penilaian hanya membuat pedagang semakin sulit mengklik tombol jual.
 
"Harus dikatakan kekhawatiran terhadap inflasi tidak pernah hilang sejak kita melangkah ke 2022, namun, sementara hal-hal belum mencapai titik tidak bisa kembali, mereka tampaknya menuju ke arah di luar kendali. Itu, mungkin adalah bagian yang paling mengkhawatirkan bagi pasar," katanya.
 
Dolar AS, yang telah reli karena penurunan selera risiko, menghentikan kenaikannya pada Kamis, dengan greenback melemah 0,05 persen terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya. Yen Jepang, di sisi lain, turun 0,2 persen terhadap dolar.
 
Inflasi Inggris melonjak ke tingkat tahunan tertinggi sejak 1982 karena tagihan energi melonjak, sementara inflasi Kanada naik menjadi 6,8 persen bulan lalu, sebagian besar didorong oleh kenaikan harga makanan dan tempat tinggal.
 
CEO perusahaan riset MacroHive Bilal Hafeez yang berbasis di London mengatakan ada bias yang kuat terhadap aset safe haven saat ini, terutama uang tunai.
 
"Mungkin ada kenaikan jangka pendek dalam ekuitas seperti beberapa hari terakhir, tetapi gambaran besarnya adalah era imbal hasil rendah telah berakhir, dan kami sedang bertransisi ke lingkungan suku bunga yang lebih tinggi," ujar Hafeez kepada Reuters Global Markets Forum.
 
Obligasi pemerintah AS reli semalam dan stabil di Asia, meninggalkan imbal hasil acuan pada obligasi pemerintah AS 10-tahun di 2,8931 persen. Imbal hasil dua tahun, yang naik bersama ekspektasi pedagang terhadap suku bunga dana Fed yang lebih tinggi, menyentuh 2,6715 persen dibandingkan dengan penutupan AS sebesar 2,667 persen.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif