Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. FOTO: AFP
Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda. FOTO: AFP

Bos BoJ: Ada Ketidakpastian Sangat Tinggi Akibat Krisis Ukraina

Ekonomi ekonomi rusia ekonomi jepang bank of japan (boj) Rusia-Ukraina
Angga Bratadharma • 18 April 2022 09:17
Tokyo: Bank of Japan (BoJ) memangkas penilaiannya untuk sebagian besar ekonomi regional di Jepang. Sedangkan Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda memperingatkan adanya ketidakpastian yang sangat tinggi atas dampak dari krisis Ukraina serta menggarisbawahi meningkatnya risiko terhadap pemulihan ekonomi.
 
Dalam laporan triwulanan yang menganalisis ekonomi regional Jepang, bank sentral Jepang menawarkan pandangan yang lebih suram daripada Januari untuk delapan dari sembilan wilayah negara itu karena kebangkitan kasus covid-19 dan kendala pasokan yang tersisa memukul pertumbuhan.
 
Haruhiko Kuroda mengatakan ekonomi nasional terus meningkat, tetapi memperingatkan potensi dampak dari kenaikan biaya komoditas dan perang di Ukraina. "Ada ketidakpastian yang sangat tinggi tentang bagaimana perkembangan di Ukraina dapat memengaruhi ekonomi dan harga Jepang," katanya, dilansir dari Channel News Asia, Senin, 18 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Laporan regional triwulanan BoJ akan menjadi salah satu faktor yang akan diteliti oleh bank sentral dalam merilis proyeksi pertumbuhan triwulanan dan inflasi baru pada pertemuan kebijakan berikutnya pada 27-28 April.

Volatilitas berlebihan

Sementara itu, Direktur Eksekutif BoJ Shinichi Uchida memperingatkan volatilitas berlebihan dalam pergerakan yen dapat mengganggu pertumbuhan. Peringatan itu muncul setelah penurunan mata uang di bawah ambang batas utama 125 yen pada dolar meningkatkan kekhawatiran tentang risiko yang lebih luas terhadap ekonomi yang bergantung pada impor.
 
Ia menambahkan bank sentral Jepang akan mempertahankan kebijakan moneter ultra-longgar karena kenaikan inflasi baru-baru ini didorong oleh biaya bahan bakar dan dapat mengganggu pemulihan ekonomi Jepang yang rapuh.
 
"Diinginkan agar nilai tukar mata uang bergerak secara stabil yang mencerminkan fundamental ekonomi dan keuangan. Itu adalah kebijakan yang dikonfirmasi oleh negara-negara G7 dan G20," pungkas Uchida.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif