Washington: Gedung Putih mengungkapkan Pemerintahan Joe Biden memutuskan untuk melarang impor Amerika Serikat (AS) dan membatasi ekspor yang melibatkan lima perusahaan Tiongkok. Hal itu dilakukan atas dugaan kerja paksa yang melibatkan warga Uyghur dan kelompok minoritas Muslim lainnya di Xinjiang.
Mereka yang ditargetkan oleh Departemen Perdagangan AS ialah Hoshine Silicon Industry Co; Xinjiang Daqo New Energy Co, sebuah unit dari Daqo New Energy Corp; dan Xinjiang East Hope Nonferrous Metals Co, anak perusahaan dari raksasa manufaktur East Hope Group yang berbasis di Shanghai.
Kemudian ada Xinjiang GCL New Energy Material Co, bagian dari GCL New Energy Holdings Ltd; Korps Produksi, dan Konstruksi Xinjiang paramiliter.
Gedung Putih menegaskan tindakan tersebut diambil guna menunjukkan komitmen AS untuk mengenakan biaya tambahan pada Republik Rakyat Tiongkok (RRT) karena terlibat dalam praktik kerja paksa yang kejam dan tidak manusiawi.
"Dan memastikan bahwa Beijing bermain dengan aturan perdagangan yang adil sebagai bagian dari tatanan internasional berbasis aturan," kata Gedung Putih, dilansir dari Channel News Asia, Selasa, 29 Juni 2021.
Sementara itu, Beijing telah menolak tuduhan genosida dan kerja paksa di Xinjiang sebagai kebohongan. Juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Zhao Lijian bereaksi terhadap laporan sebelumnya tentang tindakan AS dan mengatakan Tiongkok akan mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingan perusahaannya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan