Korea Selatan. Foto : AFP.
Korea Selatan. Foto : AFP.

Industri Otomotif Korea Selatan Minta DPR AS Bahas Insentif Pajak

Arif Wicaksono • 14 Agustus 2022 11:21
Seoul: Sebuah asosiasi besar untuk industri mobil Korea Selatan telah mengirim surat ke Dewan Perwakilan Rakyat AS dan meminta perubahan insentif pajak yang diusulkan di bawah undang-undang perubahan iklim dan energi utama.
 
Asosiasi Produsen Otomotif Korea (KAMA) mengatakan bahwa mereka menyampaikan keprihatinan mengenai keringanan pajak dalam Undang-Undang Pengurangan Inflasi, sambil menunggu persetujuan DPR, dalam surat yang dikirim ke Ketua DPR AS Nancy Pelosi.
 
baca juga: 3 Negara Besar Asia Berlomba-Lomba Investasi Otomotif Di Indonesia

Kebijakan senilai USD 430 miliar, disetujui oleh Senat menyerukan perluasan subsidi pajak untuk pembeli EV, tetapi hanya untuk EV yang dirakit di Amerika Utara. RUU itu juga memiliki ketentuan yang dimaksudkan untuk melarang EV menerima manfaat jika dilengkapi dengan baterai atau komponen baterai yang dibuat menggunakan mineral yang diproduksi di Tiongkok.
 
"Korea sangat prihatin bahwa RUU insentif pajak kendaraan listrik Senat AS baru-baru ini mencakup ketentuan untuk memberikan insentif pajak yang membedakan antara kendaraan listrik & baterai buatan Amerika Utara dan impor," ujar surat ditulis KAMA dikutip dari Korean Herard, Minggu 14 Agustus 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"KAMA dengan hormat meminta untuk memasukkan impor kendaraan listrik menggunakan baterai dan komponen baterai yang diproduksi atau dirakit di Korea dalam lingkup EV yang memenuhi syarat untuk kredit pajak AS di bawah tagihan," katanya.
 
Pembuat mobil utama Korea Selatan, termasuk Hyundai Motor Co. dan Kia Corp., telah menyuarakan keprihatinan atas tindakan tersebut, karena mereka membuat EV andalan mereka, seperti IONIQ 5 dan EV6, di pabrik domestik dan mengirimkannya ke luar negeri. Model EV lainnya seperti KONA EV dan GV60 premium juga diproduksi di Korea Selatan.
 
Ini bisa menjadi pukulan serius bagi Hyundai Motor dan Kia pada saat model EV andalan mereka semakin mendapatkan daya tarik di pasar AS dan Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Kedua pembuat mobil Korea Selatan saat ini sedang membangun pabrik EV di Georgia, tetapi membutuhkan tiga tahun lagi sebelum pembangunannya selesai.

Langgar WTO


Kementerian industri Korea Selatan mengatakan telah menyatakan keprihatinan kepada AS tentang sifat yang berpotensi diskriminatif dari keringanan pajak dan menyoroti fakta bahwa hal itu berpotensi melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan perjanjian perdagangan bebas bilateral antara kedua negara.
 
Kementerian mengatakan telah meminta pihak berwenang AS untuk memudahkan persyaratan untuk komponen baterai dan perakitan kendaraan.
 
Pemerintah mengadakan pertemuan dengan pejabat dari Hyundai dan pembuat baterai Korea Selatan, termasuk LG Energy Solution, Samsung SDI dan SK On, untuk membahas RUU dan upaya untuk menangani masalah tersebut.
 
(SAW)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif