Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Duh! Sri Lanka Kehabisan Bensin dan Solar

Media Indonesia • 27 Juni 2022 17:01
Kolombo: Sri Lanka telah menaikkan harga bahan bakar hingga 22 persen setelah menteri energi memperingatkan negara itu hampir kehabisan bensin dan solar setelah beberapa pengiriman yang diperkirakan tertunda.
 
Kanchana Wijesekera meminta maaf kepada pengendara ketika dia mengatakan pada Sabtu, 25 Juni 2022, kargo minyak yang dijadwalkan minggu lalu tidak muncul, sementara yang dijadwalkan tiba minggu depan juga tidak akan mencapai Sri Lanka karena alasan perbankan.
 
Ceylon Petroleum Corporation (CPC) mengatakan telah menaikkan harga solar yang digunakan secara luas pada transportasi umum sebesar 15 persen menjadi 460 rupee (sekitar USD1,27 atau Rp18.950) per liter. Sementara bensin naik 22 persen menjadi 550 rupee (sekitar USD1,52 atau Rp22.650).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sri Lanka menghadapi kekurangan devisa yang serius untuk membiayai impor yang paling penting, termasuk makanan, bahan bakar, dan obat-obatan sehingga membuatnya meminta bantuan internasional.
 
Wijesekera mengatakan CPC yang dikelola negara tidak dapat mengatakan kapan pasokan minyak segar akan berada di pulau itu. CPC juga telah menutup satu-satunya kilangnya karena kekurangan minyak mentah.
 
Kilang mulai beroperasi awal bulan ini menggunakan 90 ribu ton minyak mentah Rusia yang dibeli melalui Coral Energy yang berbasis di Dubai dengan persyaratan kredit dua bulan.
 
Pekan lalu, pemerintah menutup lembaga negara yang tidak penting dan sekolah-sekolah selama dua minggu untuk mengurangi perjalanan karena krisis energi. Beberapa rumah sakit di seluruh negeri melaporkan penurunan tajam dalam kehadiran staf medis karena kekurangan bahan bakar.
 
Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe memperingatkan parlemen pada Rabu, 22 Juni 2022, negara Asia Selatan yang berpenduduk 22 juta orang itu akan terus menghadapi kesulitan selama beberapa bulan lagi dan mendesak orang untuk menggunakan bahan bakar dengan hemat.
 
"Ekonomi kita telah menghadapi kehancuran total. Kami sekarang menghadapi situasi yang jauh lebih serius di luar sekadar kekurangan bahan bakar, gas, listrik, dan makanan," lanjutnya.
 
Pemerintah menyatakan gagal bayar pada April lalu setelah tidak dapat membayar kembali utang luar negeri sebesar USD51 miliar (Rp757 triliun). Saat ini Sri Lanka sedang bernegosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk mendapatkan dana talangan (bailout).
 
(AHL)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif