Ilustrasi bendera Jepang - - Foto: dok AFP
Ilustrasi bendera Jepang - - Foto: dok AFP

Ekonomi Jepang Kuartal I-2022 Menyusut 1%

Fetry Wuryasti • 19 Mei 2022 13:47
Jakarta: Ekonomi Jepang pada kuartal I-2022 terkontraksi satu persen (yoy), dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara dibandingkan kuartal sebelumnya, ekonomi Jepang tumbuh negatif 0,2 persen (qoq).
 
Pertumbuhan ekonomi Jepang pada kuartal II-2022 diperkirakan akan turun lebih rendah lagi dari pada kuartal I-2022. Saat ini banyak konsumen telah menunjukkan ketahanannya dalam menghadapi ruang lingkup pembatasan akibat covid-19, namun permintaan masih belum juga pulih.
 
Kenaikan pada harga komoditas telah memukul sektor perdagangan Jepang dan menekan keuntungan perusahaan. Hal ini akan menjadi tantangan besar bagi para perusahaan dalam kurun waktu beberapa bulan mendatang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harapannya, bauran kebijakan fiskal dan moneter dapat lebih maksimal, khususnya dari sisi fiskal yang diharapkan dari Bank Sentral Jepang. Namun, ruang lingkup pelonggaran kebijakan moneter yang terbatas, akan membuat Bank Sentral Jepang akan kesulitan untuk mengambil posisi dalam mengeksekusi pelonggaran lebih lanjut," ungkap Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis, 19 Mei 2022.
 
Pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat pulih pada kuartal II-2022, karena ada potensi meningkatnya permintaan yang sebelumnya tertahan. Namun harga impor yang lebih tinggi terhadap pengeluaran dan efek penguncian wilayah yang terjadi di Tiongkok memberikan tekanan kepada ekspor yang menurunkan prospek kedepannya.
 
Dari sisi konsumsi rumah tangga tidak terlalu memotong banyak pengeluaran untuk perjalanan, tapi bisnis jasa tidak membebankan biaya sehingga belanja jasa turun 2,5 persen (yoy).
 
"Laporan pertumbuhan ekonomi Jepang merupakan salah satu yang paling syarat perhatian, apalagi ketika nilainya mengalami penurunan. Gross Domestic Income (GDI) saat ini memiliki hubungan yang kuat dengan keuntungan perusahaan dan pertumbuhan upah, salah satu kunci pemulihan yang diawasi ketat oleh pemerintah dan Bank Sentral Jepang," terang Nico.

 
Saat ini, GDI turun 2,7 persen (yoy) dari kuartal sebelumnya, atau lebih dari dua kali lipat kontraksi GDP. Fokus selanjutnya adalah stimulus yang harus diberikan oleh Bank Sentral Jepang saat ini di tengah terbatasnya ruang lingkup pelonggaran kebijakan moneter.
 
Pemerintah dan Bank Sentral Jepang tetap akan berusaha untuk mendukung stimulus yang berkelanjutan. Namun pelaku pasar dan investor sulit melihat prospek perekonomian Jepang saat ini.
 
Gubernur Bank Sentral Jepang, Haruhiko Kuroda mengatakan pengaturan tingkat suku bunga tidak boleh berubah untuk mendukung fase pemulihan yang rapuh. Sikap itu justru membuat Jepang ketinggalan kereta  karena The Fed dan bank sentral di seluruh dunia sudah mulai menaikkan bunga acuannya.
 
"Yang harus diperhatikan di sini, adalah ketika depresiasi Yen meningkat, diikuti dengan kenaikan harga komoditas, akan memberikan kenaikkan terhadap harga impor. Oleh karena itu dikhawatirkan kenaikan nilai impor, akan membuat perusahaan membebankan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen," kata Nico.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif