Ilustrasi penduduk miskin - - Foto: Medcom.id
Ilustrasi penduduk miskin - - Foto: Medcom.id

Miris! Ada 700 Juta Orang di Dunia Cuma Pegang Duit Rp32 Ribu Sehari

Insi Nantika Jelita • 07 Oktober 2022 14:31
Jakarta: Studi dari Bank Dunia menemukan dampak pandemi covid-19 memberikan kemunduran terbesar bagi upaya pengurangan kemiskinan global sejak 1990, dan perang di Ukraina semakin memperparah keadaan.
 
Diperkirakan sekitar 70 juta orang masuk ke dalam kemiskinan ekstrem di 2020 akibat pandemi, peningkatan terbesar sejak adanya pemantauan kemiskinan global pada 1990. Diperkirakan ada 719 juta orang hidup dengan kurang dari USD2,15 atau sekitar Rp32 ribu (kurs Rp15.239 per USD) per hari.
 
Laporan Kemiskinan dan Kemakmuran Bersama terbaru Bank Dunia memberikan pandangan komprehensif pada lanskap global kemiskinan setelah serangkaian guncangan luar biasa terhadap ekonomi global selama beberapa tahun terakhir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kemajuan dalam mengurangi kemiskinan ekstrem pada dasarnya terhenti seiring dengan pertumbuhan ekonomi global yang lemah," kata Presiden Bank Dunia David Malpass dalam keterangan resminnya, Jumat, 7 Oktober 2022.
 
Ia mengatakan yang menjadi perhatian Bank Dunia adalah meningkatnya kemiskinan ekstrem dan penurunan kemakmuran bersama yang disebabkan oleh inflasi, depresiasi mata uang, dan konflik geopolitik. Ini diartikan sebagai pandangan suram bagi miliaran orang di seluruh dunia.
 
Menurutnya, diperlukan penyesuaian kebijakan makroekonomi untuk meningkatkan alokasi modal global, mendorong stabilitas mata uang dan menekan suku bunga yang lebih tinggi.
 
Baca juga: Pengembangan UMKM Jadi Strategi Jitu Pemerintah Entaskan Kemiskinan Ekstrem

 
Dalam laporan Bank Dunia menyebutkan orang-orang termiskin menanggung biaya pandemi yang paling parah dengan mengalami kerugian pendapatan rata-rata empat persen untuk 40 persen termiskin, dua kali lipat kerugian 20 persen orang terkaya dari distribusi pendapatan. Akibatnya, ketidaksetaraan ekonomi global meningkat untuk dalam beberapa dekade.
 
"Tingkat kemiskinan rata-rata di negara berkembang akan menjadi 2,4 poin persentase lebih tinggi tanpa respons fiskal," sebut Malpass.
 
Namun, lanjutnya, pengeluaran pemerintah akan jauh lebih bermanfaat bagi pengurangan kemiskinan di negara-negara terkaya, yang umumnya berhasil sepenuhnya mengimbangi dampak covid-19 terhadap kemiskinan melalui kebijakan fiskal dan langkah-langkah dukungan darurat lainnya.
 
"Selama dekade berikutnya, berinvestasi dalam kesehatan dan pendidikan akan sangat penting bagi negara berkembang, mengingat kerugian pembelajaran yang parah dan kemunduran terkait kesehatan yang mereka derita selama pandemi," kata Kepala Ekonom dan Wakil Presiden Senior Bank Dunia untuk Ekonomi Pembangunan Indermit Gill.
 
Kemiskinan ekstrem terkonsentrasi di Afrika Sub-Sahara, di daerah yang terkena dampak konflik, dan di daerah pedesaan. Afrika Sub-Sahara sekarang menyumbang 60 persen dari semua orang yang berada dalam kemiskinan ekstrem atau sekitar 389 juta orang, lebih banyak daripada wilayah lain mana pun. Tingkat kemiskinan di kawasan ini sekitar 35 persen, tertinggi di dunia.
 
Untuk mencapai tujuan kemiskinan 2030, setiap negara di kawasan ini perlu mencapai pertumbuhan PDB per kapita sebesar sembilan persen per tahun selama sisa dekade ini. Ini merupakan rintangan yang berat bagi negara-negara yang pertumbuhan PDB per kapitanya rata-rata 1,2 persen dalam satu dekade sebelum covid-19.

 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif