"Dan saya pikir penting untuk menegaskan masih ada risiko penurunan. Varian Omicron baru telah meningkatkan ketidakpastian akan penyebaran yang lebih agresif sehingga membebani aktivitas ekonomi di masa depan," katanya dalam Finance dan Central Bank Deputies Meetings (FCBD), di Nusa Dua Bali, Jumat, 10 Desember 2021.
Selain varian Omicron, ekonomi dunia juga dipengaruhi oleh tekanan inflasi Amerika Serikat (AS) dan negara maju lainnya sehingga mereka harus melakukan pengetatan kebijakan moneter. Hal ini justru berimbas pada kondisi keuangan di pasar negara berkembang dan kelompok rentan.
"Dan krisis ini kemungkinan akan memiliki bekas luka yang bertahan lama pada ekonomi dan kelompok yang rentan," ungkap dia.
Oleh karena itu, IMF mendukung pertemuan Finance Track dalam Presidensi G20 agar mencari jalan keluar bagi negara maju dan negara berkembang untuk bangkit bersama dari sisi ekonomi, keuangan dan kesehatan.
"Saya optimistis dan setuju ini adalah tema yang tepat dan momen yang tepat untuk berbicara tentang bagaimana kita pulih bersama dan pulih lebih kuat," pungkas dia. Dalam Outlook Ekonomi Dunia terbaru, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 5,9 persen di tahun ini dan 4,9 persen pada 2022.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News