Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen. FOTO: AFP/Brendan
Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen. FOTO: AFP/Brendan

Ada yang Melanggar Tatanan Ekonomi Internasional, AS Siap Berlakukan Konsekuensi Keras

Angga Bratadharma • 26 Juli 2022 13:03
Seoul: Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mengatakan AS akan memberlakukan konsekuensi keras pada negara-negara yang melanggar tatanan ekonomi internasional. Dalam hal ini, Negeri Paman Sam itu juga terus menyoroti perang yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.
 
"Integrasi ekonomi telah dipersenjatai oleh Rusia," kata Yellen, dilansir dari Channel News Asia, Selasa, 26 Juli 2022.
 
Ia menyerukan semua negara yang bertanggung jawab untuk bersatu menentang perang Rusia di Ukraina. Dirinya menambahkan Amerika Serikat mendorong peningkatan hubungan perdagangan dengan Korea Selatan dan sekutu terpercaya lainnya untuk meningkatkan ketahanan rantai pasokan, dan mencegah kemungkinan manipulasi oleh saingan geopolitik.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Yellen mengaku berbesar hati atas percakapan dengan rekan-rekan Korea Selatan tentang batas yang diusulkan pada harga minyak Rusia. Dia akan membahas proposal pembatasan harga minyak dengan pejabat tinggi di Seoul.
Baca: Sandiaga Ajak Milenial Berinovasi Kembangkan Kebudayaan Daerah

Sementara itu, Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan prospek ekonomi global telah gelap secara signifikan dan dapat memburuk lebih lanjut. Kondisi itu dengan mengutip perang Rusia di Ukraina dan inflasi tinggi yang mengancam kelaparan dan kemiskinan yang kian meluas.
 
Peringatan itu datang hanya beberapa bulan setelah IMF memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2022 dan 2023. Adapun perang Ukraina melanda ketika dunia sedang berjuang untuk pulih dari dampak berkelanjutan dari pandemi covid-19, dan telah menyebabkan percepatan inflasi yang membahayakan keuntungan dalam dua tahun terakhir.
 
Georgieva mengatakan dalam sebuah posting blog yang diterbitkan menjelang pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral G20 bahwa pemberi pinjaman krisis internasional memproyeksikan penurunan lebih lanjut pertumbuhan ekonomi global pada 2022 dan 2023.
 
"Ini akan menjadi 2022 yang sulit dan mungkin 2023 yang lebih sulit, dengan peningkatan risiko resesi," pungkasnya.
 
(ABD)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif