Ilustrasi harga minyak. Foto: Unsplash.
Ilustrasi harga minyak. Foto: Unsplash.

Tren Stagflasi Bayangi Kebijakan Moneter Eropa

Arif Wicaksono • 10 April 2026 14:19
Ringkasnya gini..
  • Ketidakpastian global diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan pada kuartal II-2026.
  • Chief Economist AllianzGI, Dr. Christian Schulz, menilai ekonomi Amerika Serikat akan mulai kehilangan momentum pada pertengahan 2026.
Jakarta: Ketidakpastian global diperkirakan masih akan membayangi pasar keuangan pada kuartal II-2026. 
 
Namun di tengah tekanan tersebut, Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai prospek ekonomi global tetap memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan.
 
Dalam laporan House View terbaru, AllianzGI melihat kombinasi risiko geopolitik dan dinamika ekonomi global akan menciptakan kondisi pasar yang menantang. 
 
Baca juga: Dunia Kena Imbas! IMF Sebut Konflik Timur Tengah Ganggu Ekonomi Global

Ketegangan di Timur Tengah, misalnya, telah mendorong lonjakan harga energi yang berpotensi memicu tekanan stagflasi, perlambatan pertumbuhan yang disertai inflasi tinggi.

Meski demikian, faktor struktural seperti investasi di bidang kecerdasan buatan (AI) dinilai masih menjadi penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi dunia.
 
AllianzGI memperkirakan harga minyak di kisaran USD90–USD110 per barel masih relatif terkendali dalam jangka pendek. Namun, jika bertahan terlalu lama, kondisi ini dapat menekan stabilitas harga dan memperlambat pertumbuhan global.
 
Dalam situasi tersebut, investor disarankan untuk mengedepankan strategi diversifikasi portofolio jangka panjang, dengan fokus pada aset berkualitas serta tema investasi yang berkaitan dengan otonomi strategis dan pengembangan AI. 
 
Sementara itu, terhadap dolar AS, AllianzGI tetap bersikap hati-hati meskipun mata uang tersebut sempat menguat sebagai aset safe haven.

Tekanan stagflasi membatasi ruang kebijakan moneter

Chief Economist AllianzGI, Dr. Christian Schulz, menilai ekonomi Amerika Serikat akan mulai kehilangan momentum pada pertengahan 2026. Kenaikan harga energi diperkirakan menjaga inflasi tetap berada di sekitar 3 persen, atau di atas target bank sentral AS.
 
Kondisi ini membuat ruang pemangkasan suku bunga menjadi terbatas, dengan suku bunga acuan diproyeksikan berada di kisaran 3,5 persen pada akhir tahun.
 
Di Eropa, pertumbuhan ekonomi diperkirakan bergerak moderat di kisaran 1 hingga 1,5 persen, dengan Jerman sebagai salah satu pendorong utama. Namun, tekanan harga energi berpotensi membuat inflasi kembali melampaui target Bank Sentral Eropa (ECB).
 
“Dalam situasi ini, peluang penurunan suku bunga di Eropa menjadi kecil, bahkan risiko kenaikan
suku bunga tetap terbuka,” ujar Schulz.
 
Sementara di Asia, arah kebijakan ekonomi cenderung beragam. Ketika stimulus fiskal di Tiongkok mulai berkurang, Jepang justru mendapat dorongan dari peningkatan belanja pemerintah, yang berpotensi mendorong kenaikan suku bunga oleh bank sentralnya.

AI dan energi jadi tema utama di pasar saham

Dari sisi pasar ekuitas, Chief Investment Officer Equity AllianzGI, Dr. Michael Heldmann, menilai tema otonomi strategis semakin menguat, terutama di Eropa. Sektor pertahanan, energi, digitalisasi, hingga layanan kesehatan menjadi fokus utama dalam tren ini.
 
Ia juga menyoroti bahwa ketegangan geopolitik terbaru menunjukkan masih rapuhnya rantai pasok energi global, sehingga sektor terkait berpotensi mendapatkan keuntungan.
 
Di sisi lain, perkembangan teknologi tetap menjadi pendorong utama pasar. Adopsi AI yang semakin cepat, khususnya di Tiongkok, mendorong permintaan terhadap semikonduktor, infrastruktur energi, hingga pusat data.
 
Dari perspektif valuasi, AllianzGI melihat pasar Jepang dan Inggris sebagai yang paling menarik saat ini.

Selektif dan fokus pada kualitas aset Obligasi

Pada pasar obligasi, volatilitas yang meningkat membuat pendekatan investasi menjadi lebih selektif. Chief Investment Officer Fixed Income AllianzGI, Jenny Zeng, menekankan pentingnya kualitas aset dan manajemen risiko.
 
Menurutnya, inflasi akibat kenaikan harga minyak serta meningkatnya kehati-hatian investor menciptakan dinamika yang kompleks di pasar obligasi. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan kekuatan fundamental emiten serta mengelola durasi secara aktif.
 
Obligasi pemerintah Jepang dan Inggris dinilai menarik, diikuti oleh US Treasury. Sementara itu, di segmen korporasi, obligasi investment grade di kawasan Eropa masih menawarkan valuasi yang kompetitif.
 
Selain itu, obligasi pasar berkembang juga dinilai mampu memberikan imbal hasil yang relatif stabil sekaligus manfaat diversifikasi, dengan kawasan Asia sebagai salah satu yang menonjol karena volatilitas yang lebih rendah.

Strategi multi-aset: tetap optimistis, tapi waspada

Dalam strategi multi-aset, AllianzGI tetap mempertahankan pandangan positif terhadap saham dalam jangka panjang. 
 
Namun, dalam jangka pendek, pendekatan yang lebih hati-hati dinilai diperlukan karena meningkatnya risiko geopolitik.
 
Chief Investment Officer Multi Asset AllianzGI, Gregor MA Hirt, menyebutkan bahwa pasar di Eropa, Jepang, dan negara berkembang saat ini menawarkan valuasi yang lebih menarik dibandingkan Amerika Serikat.
 
Di sisi lain, komoditas tetap memainkan peran penting dalam portofolio. Emas dipandang sebagai aset lindung nilai utama dalam jangka panjang, sementara tembaga dinilai prospektif karena keterbatasan pasokan.
 
Untuk mata uang, AllianzGI menyarankan pendekatan yang fleksibel terhadap dolar AS, seiring dinamika global yang cepat berubah. Investor juga dianjurkan menjaga likuiditas guna memanfaatkan peluang yang muncul di tengah volatilitas pasar.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan