Dalam dokumen tersebut, Teheran meminta penghentian konflik secara total, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Laporan kantor berita semi resmi Pemerintah Iran Tasnim News Agency menyebut proposal itu juga meminta adanya jaminan agar tidak ada lagi serangan atau agresi terhadap Iran di masa mendatang.
| Baca juga: Harga Minyak Melonjak Usai AS dan Iran Gagal Capai Kesepakatan Damai |
Selain itu, Iran meminta Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap penjualan minyak dalam waktu 30 hari setelah kesepakatan awal tercapai. Pemerintah Iran juga menuntut aset-aset mereka yang dibekukan segera dilepaskan.
Namun, proposal tersebut langsung mendapat penolakan dari Presiden Donald Trump. Trump menyebut respons Iran “sama sekali tidak dapat diterima” melalui unggahan di media sosialnya.
Pemerintah AS menilai Iran belum memberikan kepastian terkait penghentian program pengembangan senjata nuklir. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mengatakan Teheran harus memperjelas bahwa mereka tidak berniat memiliki senjata nuklir jika ingin mencapai kesepakatan damai.
Dalam beberapa pekan terakhir, kedua negara dilaporkan terus bertukar proposal perdamaian melalui mediasi Pakistan. Delegasi Iran dan AS bahkan sempat bertemu di Islamabad pada April lalu, tetapi perundingan berakhir tanpa hasil konkret.
Ketegangan antara kedua negara meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke sejumlah wilayah Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei, serta warga sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal dan drone ke target yang terkait dengan AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Iran juga memperketat pengawasan di Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia.
Situasi tersebut membuat pasar global terus memantau perkembangan konflik karena berpotensi mempengaruhi harga minyak, perdagangan internasional, hingga stabilitas ekonomi dunia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News