Dikutip dari Channel News Asia, pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup, tambahnya. Menurut Suri, ujian keberhasilan yang sesungguhnya terletak pada sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu diterjemahkan menjadi penciptaan lapangan kerja.
Asia Selatan masih menjadi kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, dengan laju pertumbuhan diperkirakan menguat menjadi 7,1 persen pada 2025. Pertumbuhan tersebut diproyeksikan akan melambat menjadi 6,2 persen pada 2026, menurut laporan Prospek Ekonomi Global Bank Dunia yang dirilis bulan ini.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik cenderung lebih moderat, yakni sekitar 4,8 persen pada 2025, dan diperkirakan kembali melambat menjadi 4,4 persen pada 2026 di tengah tekanan makroekonomi global dan meningkatnya ketidakpastian perdagangan.
Meski demikian, Suri menegaskan kawasan Asia-Pasifik tetap menunjukkan ketangguhan, termasuk dalam menghadapi kebijakan tarif tinggi dari Amerika Serikat.
Pekerjaan di Pusat Strategi Pembangunan
Penciptaan lapangan kerja menjadi inti dari strategi pembangunan IFC. Ia menekankan sektor swasta menyumbang sebagian besar lapangan kerja baru secara global, sehingga memperkuat peran IFC dalam Grup Bank Dunia untuk memobilisasi modal swasta dalam skala besar guna mendorong pertumbuhan yang inklusif.“Cara terbaik untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan menciptakan lapangan kerja, dengan memberikan martabat melalui pekerjaan, memungkinkan seseorang menjadi anggota masyarakat yang produktif, meningkatkan pendapatan, dan memperbaiki kualitas hidup mereka,” kata Suri.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah peringatan Bank Dunia bahwa perekonomian global akan menghadapi tantangan penciptaan lapangan kerja yang krusial dalam satu dekade ke depan. Diperkirakan sekitar 1,2 miliar anak muda akan memasuki dunia kerja di negara-negara berkembang pada 2035, dengan lonjakan terbesar terjadi di Asia Selatan dan Asia Timur.
Bank Dunia memperingatkan bahwa tanpa percepatan penciptaan lapangan kerja, investasi, dan reformasi struktural, lonjakan tenaga kerja muda tersebut berisiko memicu peningkatan pengangguran dan potensi kerusuhan sosial. Dalam konteks ini, belanja infrastruktur serta perbaikan iklim usaha dinilai menjadi kunci untuk mengubah bonus demografi menjadi sumber pertumbuhan ekonomi.
Pertanian dan Peran AI
Agribisnis masih menjadi salah satu sektor dengan potensi terbesar dalam menciptakan lapangan kerja, menyerap sekitar 30 persen tenaga kerja di negara-negara Asia-Pasifik. Selain itu, sektor pariwisata dan layanan kesehatan juga menawarkan peluang kerja yang signifikan.Ia menambahkan, melalui inisiatif AgriConnect, Bank Dunia menargetkan peningkatan pendapatan bagi 300 juta petani di negara-negara berkembang hingga 2030.
Pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) semakin memainkan peran penting dalam upaya tersebut. AI digunakan untuk membantu petani meningkatkan hasil panen, memprediksi pola cuaca dan kebutuhan irigasi, serta terhubung lebih efisien dengan pembeli.
“Gagasannya adalah menghubungkan petani dengan pasar, sekaligus mengatasi setiap mata rantai nilai mulai dari produksi di hulu hingga proses penambahan nilai,” ujar Suri.
Di luar sektor pertanian, AI juga mulai membentuk ulang berbagai sektor yang krusial bagi penciptaan lapangan kerja. Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), misalnya, masih menghadapi kesenjangan pembiayaan global sekitar USD3 triliun.
“Di sektor tersebut, AI bisa menjadi sangat transformatif,” kata Suri. “Kami melihat perusahaan-perusahaan mulai mengembangkan model kredit baru untuk menjangkau pelaku usaha yang belum terhubung dengan sistem perbankan formal.”
Namun, ekspansi pesat AI dan pusat data juga menimbulkan tantangan keberlanjutan, terutama terkait konsumsi energi dan air. Suri menegaskan bahwa IFC memastikan setiap investasi di sektor ini didukung oleh sumber energi berkelanjutan serta pengelolaan air yang bertanggung jawab.
Peta Jalan IFC 2030
Suri menjelaskan peta jalan jangka panjang IFC, yang dikenal sebagai IFC 2030, dibangun di atas tiga pilar utama. Pilar pertama adalah memperkuat peran IFC sebagai “mesin mobilisasi” dengan memanfaatkan neraca keuangannya untuk menarik modal swasta dalam skala yang jauh lebih besar.Di kawasan Asia-Pasifik tahun lalu, IFC memobilisasi pembiayaan senilai USD3 miliar dengan menggunakan dana sendiri sebesar USD5 miliar. Hingga 2030, IFC menargetkan kemampuan mobilisasi modal meningkat hingga lima kali lipat.
Pilar kedua adalah memperluas investasi ekuitas guna membantu membangun serta mengembangkan perusahaan-perusahaan di seluruh kawasan. Pilar ketiga adalah memperdalam dukungan terhadap UMKM, termasuk melalui pengembangan solusi pembiayaan berbasis kecerdasan buatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News