Ilustrasi industri manufaktur. Foto Istimewa.
Ilustrasi industri manufaktur. Foto Istimewa.

India Berpotensi Salip Tiongkok dalam Mata Rantai Pasok Global, Apa Kabar Indonesia?

Husen Miftahudin, Fetry Wuryasti • 25 Januari 2023 13:25
Jakarta: Ketika perekonomian dunia butuh kekuatan baru, India melangkah menjadi salah satu motor pembangkit perekonomian tahun ini. Perdana Menteri Modi ingin membuat India menjadi salah satu negara maju.
 
India tengah bertransformasi, manufaktur global sedang melirik mereka sebagai negara tujuan selain Tiongkok. Pemerintah India bersiap untuk menyambut dengan membelanjakan hampir 20 persen anggaran pada tahun fiskal ini untuk investasi modal. Hal itu merupakan yang terbesar dalam satu dekade.
 
Modi yakin, saat ini India tengah mengejar potensi terbaik untuk melampaui negara-negara lain, meskipun harus bergulat dengan korupsi dan birokrasi yang memperlambat kebangkitan India.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Modi melihat, persaingan antara Amerika dan Tiongkok, tengah menjadikan India sebagai pilihan kedua bagi investor global bersama dengan Vietnam.
 
"Kami melihat hal ini memang sangat berpotensi untuk terjadi, pasalnya Tiongkok pun belum pulih sepenuhnya. Posisi Tiongkok dalam mata rantai pasok global memang merupakan salah satu yang terpenting, setidaknya untuk saat ini tapi bukan untuk selamanya," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus, Rabu, 25 Januari 2023.
 
Investor global cari pengganti Tiongkok
 
Dengan pemulihan ekonomi Tiongkok yang belum berjalan dengan baik, investor global harus mencari pengganti Tiongkok dalam mata rantai pasok global.
 
Kenyataannya, mencari pengganti Tiongkok merupakan sesuatu yang sangat sulit, namun ternyata investor global hanya cukup mencari negara yang dapat melengkapi Tiongkok dalam mata rantai pasok global.
 
India dan Vietnam adalah negara yang setidaknya saat ini mampu melengkapi Tiongkok sebagai titik sentral mata rantai pasok global.
 
Di tengah situasi dan kondisi negara maju tengah berjibaku dengan perekonomian yang mulai melambat, negara berkembang tengah menjadi motor, untuk penyeimbang ekonomi dunia yang melambat, mendorong ekonomi global untuk bertahan di tengah ketidakpastian.
 
Perusahaan investasi dan jasa keuangan Morgan Stanley mengatakan, India akan mendorong seperlima ekspansi dunia dalam dekade ini. India akan menjadi salah satu dari tiga negara yang menghasilkan lebih dari USD400 miliar pertumbuhan produksi secara tahunan.
 
"Investor global sedang mencari, dimana mereka dapat menanamkan modal. Setelah 15 tahun terakhir, tahun ini merupakan tahun India menarik banyak minat investor global," kata Nico.
 
Modi telah bekerja dengan keras, terbukti Modi mampu meningkatkan manufaktur hingga 25 persen dari GDP mereka. Rasio naik dari sebelumnya 15,3 persen pada 2000 menjadi 17,4 persen pada 2020. India akan membuktikan kemajuan negara mereka pada saat G20 tahun depan nanti, dimana India akan mencoba untuk menjadi jembatan dunia.
 
India akan menjadi matahari baru pada tahun depan setelah kesuksesan Indonesia dalam G20 di 2022. Potensi pertumbuhan ekonomi India akan naik bertahap setidaknya hingga 8,5 persen pada awal dekade berikutnya, ditopang oleh pemotongan pajak perusahaan, insentif untuk produsen dan privatisasi aset publik. Sehingga perekonomian India akan bernilai USD10 triliun pada 2035 mendatang.
 
Baca juga: PMI Manufaktur di Desember 2022 Gambarkan Daya Tahan RI dari Guncangan Global

 
Kondisi manufaktur Indonesia
 
Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Kondisi industri manufaktur Indonesia sendiri saat ini tengah terperosok. Jika dibandingkan dalam dua dekade, kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia jeblok.
 
Peranan industri manufaktur Indonesia terhadap PDB dari yang sebelumnya di kisaran 29,1 persen pada awal 2000-an, merosot tajam menjadi 18,3 persen pada kuartal III-2022.
 
Meski demikian, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berkilah jika penurunan persentase kontribusi industri terhadap PDB tidak serta merta menunjukkan bahwa industri manufaktur mengalami deindustrialisasi.
 
Sebab sejumlah indikator justru menunjukkan ekspansi, seperti angka PMI manufaktur Indonesia yang berada pada level ekspansif, ekspor industri manufaktur yang terus bertumbuh, hingga investasi sektor manufaktur yang kian melesat.
 
*Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id*
 
(HUS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif