Berdasarkan hasil yang diumumkan otoritas pemilu Brasil, Lula berhasil mengungguli Senator Flavio Bolsonaro, putra sulung mantan Presiden Jair Bolsonaro. Hasil ini menjadi kejutan setelah Flavio sempat memimpin pada putaran pertama pemilihan.
Kemenangan Lula juga mematahkan sejumlah perkiraan politik yang sebelumnya menempatkan kubu Bolsonaro dalam posisi menguntungkan. Di tengah kecenderungan sejumlah negara untuk beralih dari pemerintahan petahana, Lula justru berhasil mempertahankan dukungan pemilih.
Lula dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam politik Brasil modern. Sebelum terjun ke pemerintahan, ia merupakan pekerja metal sekaligus aktivis serikat buruh yang membangun basis dukungan dari kalangan pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Namun, perjalanan politiknya tidak selalu mulus. Partai Pekerja atau Workers' Party yang dipimpinnya sempat kehilangan kepercayaan publik akibat berbagai skandal korupsi dan tekanan kenaikan harga kebutuhan hidup. Perubahan pola kerja, termasuk pertumbuhan ekonomi berbasis aplikasi dan sektor informal, turut menghadirkan tantangan bagi basis politik tradisionalnya.
Lula juga pernah menjalani hukuman penjara pada 2018–2019 dalam perkara korupsi. Putusan yang menjeratnya kemudian dibatalkan, membuka jalan bagi pencalonannya dalam pemilihan presiden 2022. Saat itu, ia berhasil mengalahkan Jair Bolsonaro dan kembali menduduki kursi kepresidenan.
Anggota parlemen federal dari kelompok kiri, Erika Hilton, menyambut kemenangan tersebut dengan memuji kepemimpinan Lula.
"Dia adalah seorang negarawan, sosok yang luar biasa," kata Hilton kepada Reuters ketika mendampingi Lula di Sao Paulo saat penghitungan suara berlangsung.
Partisipasi Pemilih Jadi Penentu
Tingkat partisipasi pemilih yang melampaui perkiraan disebut menjadi salah satu faktor yang membantu Lula meraih kemenangan. Dalam persaingan ketat tersebut, pengalaman politik dan rekam jejak pemerintahan dinilai lebih menarik bagi sebagian pemilih dibandingkan tawaran perubahan dari kubu lawan.Leonardo Barreto, salah satu pendiri lembaga konsultan Think Policy, menilai pemilih cenderung memilih Lula karena sudah mengenal arah kebijakannya.
Menurut dia, masyarakat dihadapkan pada pilihan antara mengambil risiko dengan mendukung perubahan atau mempertahankan jalur yang dianggap lebih memberikan kepastian.
Selama kampanye, Lula berulang kali mengangkat keberhasilannya dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan. Pemerintahannya juga mencatat penurunan pengangguran, angka buta huruf, dan deforestasi pada sejumlah indikator yang disoroti selama masa jabatan ketiganya.
Sebaliknya, Lula memperingatkan bahwa kemenangan kubu Bolsonaro dapat mengancam keberlanjutan program kesejahteraan dan kemajuan sosial. Ia juga menilai hubungan yang lebih dekat dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi mengurangi keleluasaan Brasil dalam menentukan kebijakan nasionalnya.
Kemenangan Lula sekaligus menghambat upaya memperluas kekuatan politik sayap kanan di Amerika Latin. Kawasan tersebut menjadi bagian penting dalam agenda Washington, terutama terkait keamanan dan migrasi.
Mantan Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim menilai Lula dapat memainkan peran strategis dalam menjaga keseimbangan politik kawasan.
Kebangkitan Politik Sang Mantan Buruh
Kemenangan terbaru ini menambah panjang perjalanan politik Lula yang diwarnai berbagai kebangkitan. Ia pernah menjabat sebagai presiden pada 2003–2011 sebelum kembali berkuasa pada 2023.Lula menjadi kandidat pertama sejak Brasil kembali ke pemerintahan demokratis pada 1980-an yang berhasil memenangkan pemilihan presiden setelah finis di posisi kedua pada putaran pertama.
Strategi kampanyenya memadukan pendekatan pragmatis dengan janji-janji populis yang menyasar kebutuhan masyarakat. Ia menawarkan kebijakan untuk memperluas perlindungan sosial dan meningkatkan daya beli, terutama bagi kelompok pekerja dan masyarakat berpenghasilan rendah.
Menjelang pemungutan suara, Lula juga memperkuat daya tarik kampanyenya melalui sejumlah proposal baru. Salah satunya adalah transportasi umum gratis secara nasional pada akhir pekan, yang masih memerlukan pengajuan resmi kepada Kongres.
Selain itu, ia menawarkan peningkatan 15 persen pada program bantuan sosial andalannya. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan dukungan masyarakat terhadap agenda kesejahteraan pemerintah.
Di bidang ketenagakerjaan, Lula turut mendorong perubahan konstitusi yang disebut sebagai salah satu reformasi ketenagakerjaan terbesar Brasil dalam beberapa dekade. Perubahan tersebut berhasil memperoleh dukungan luas di Kongres.
Meski demikian, kemenangan di pemilihan presiden tidak otomatis menjamin kelancaran pemerintahannya. Lula justru akan menghadapi konfigurasi politik yang lebih menantang ketika mulai menjalani periode keempat.
Kongres Konservatif Jadi Ujian Berat
Pemilihan anggota parlemen menghasilkan Kongres yang paling konservatif sejak Brasil kembali ke pemerintahan demokratis pada 1980-an. Kondisi ini berpotensi membatasi ruang gerak Lula dalam menjalankan agenda pemerintahannya.Partai Liberal yang dipimpin Jair Bolsonaro bersama partai-partai sekutunya diperkirakan dapat menguasai lebih dari 280 kursi di majelis rendah dan hingga 50 kursi di Senat. Kekuatan tersebut memberi kubu konservatif posisi tawar yang besar dalam pembahasan kebijakan dan pengawasan terhadap pemerintah.
Oliver Stuenkel, profesor hubungan internasional di Getulio Vargas Foundation, Sao Paulo, menilai Lula berpotensi menghadapi keterbatasan kekuasaan sejak awal masa jabatan.
Menurut Stuenkel, dominasi kelompok konservatif dapat memperbesar peran Kongres dalam pengambilan keputusan nasional. Akibatnya, presiden berisiko kehilangan sebagian pengaruh dalam menentukan arah kebijakan strategis.
Persoalan itu juga dapat memengaruhi proses pencalonan hakim Mahkamah Agung, pembentukan koalisi pemerintahan, hingga stabilitas hubungan antara eksekutif dan legislatif.
Bahkan, ancaman pemakzulan dapat menjadi salah satu risiko politik yang harus diperhitungkan. Dengan kondisi tersebut, Lula perlu membangun kesepakatan lintas partai agar agenda pemerintahannya tidak terhambat oleh pertarungan politik di parlemen.
Pertumbuhan Ekonomi dan Beban Utang
Selain persoalan politik, tantangan ekonomi juga membayangi masa jabatan keempat Lula. Pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi Brasil hanya mencapai 2,3 persen pada tahun depan, mencerminkan prospek ekspansi yang relatif terbatas.Tekanan fiskal menjadi perhatian utama di tengah tingginya suku bunga dan peningkatan utang publik. Rasio utang pemerintah telah melampaui 82 persen dari produk domestik bruto (PDB), mencapai level tertinggi sejak pandemi.
Para pengkritik menilai belanja pemerintah yang besar menjadi salah satu penyebab memburuknya kondisi fiskal. Namun, sebagian kenaikan utang juga dipengaruhi oleh tingginya biaya pembayaran bunga.
Goldman Sachs memperkirakan ruang Lula untuk menekan pengeluaran pemerintah akan terbatas. Hal itu berkaitan dengan komitmennya mempertahankan model pembangunan yang menempatkan negara sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, meningkatnya utang rumah tangga turut menjadi persoalan yang harus ditangani pemerintah. Untuk merespons tekanan tersebut, Lula sebelumnya mengambil langkah terkait pembatasan sementara perjudian daring dan memperkenalkan program keringanan utang selama masa kampanye.
Ke depan, dominasi kelompok konservatif di Kongres diperkirakan meningkatkan dorongan terhadap reformasi struktural yang berpihak pada dunia usaha. Namun, perubahan kebijakan tersebut berpotensi disertai pengetatan anggaran belanja pemerintah.
Jika pengurangan belanja dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap kelompok rentan, tekanan sosial dapat meningkat. Situasi ini menempatkan Lula pada posisi sulit: menjaga keberlanjutan program sosial sekaligus mengendalikan utang dan memulihkan kepercayaan pasar.
Kemenangan pemilihan presiden memang memperpanjang perjalanan politik Lula. Namun, keberhasilan periode keempatnya akan sangat ditentukan oleh kemampuan mengelola Kongres yang konservatif, menjaga stabilitas fiskal, dan mempertahankan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat Brasil.