Ilustrasi. Foto: AFP/Jewel
Ilustrasi. Foto: AFP/Jewel

Wall Street Merosot Dihantui Resesi, Dow Jones Anjlok 486,27 Poin!

Antara • 24 September 2022 08:30
New York: Wall Street merosot pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena aksi jual besar-besaran berlanjut di tengah kekhawatiran resesi setelah kebijakan suku bunga hawkish Federal Reserve AS untuk mengekang inflasi yang terus memanas.
 
Melansir Antara, Sabtu, 24 September 2022, Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 486,27 poin atau 1,62 persen, menjadi  29.590,41. Sementara itu, indeks S&P 500 tergelincir 64,76 poin atau 1,72 persen menjadi 3.693,23. Indeks Komposit Nasdaq juga jatuh 198,88 poin atau 1,80 persen menjadi 10.867,93.
 
Sebelas sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dengan sektor energi dan konsumer non-primer masing-masing terpuruk 6,75 persen dan 2,29 persen, memimpin kerugian.
 
Baca juga: The Fed Kembali Naikkan Suku Bunga 75 Bps Demi Redam Inflasi yang Mendidih

Ketiga indeks mengalami penurunan mingguan yang berat. Indeks Nasdaq anjlok 5,03 persen. Penurunan ini minggu kedua berturut-turut turun lebih dari 5 persen. Sedangkan untuk S&P 500 jatuh 4,77 persen dan Dow 4,0 persen lebih rendah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasar bereaksi dalam mode risk-off (penghindaran risiko) karena meningkatnya kekhawatiran bahwa pengetatan kebijakan agresif Federal Reserve akan menyebabkan resesi.
 
The Fed pada Rabu, 21 September 2022 menyampaikan kenaikan suku bunga 75 basis poin ketiga berturut-turut tahun ini, membawa suku bunga dana federal ke kisaran baru 3 persen hingga 3,25 persen, dalam upaya untuk mengendalikan inflasi.
 
Besarnya kenaikan suku bunga sudah diperkirakan secara luas, tetapi laju pengetatan di masa depan yang tersirat oleh proyeksi ekonomi terbaru Fed lebih agresif daripada yang diantisipasi.
 
Komentar dari Ketua Fed Jerome Powell juga tetap hawkish, menekankan bank sentral fokus untuk mencapai stabilitas harga. The Fed memperkirakan ini akan membutuhkan periode berkelanjutan dari kebijakan moneter ketat. Pertumbuhan ekonomi pun diprediksi akan melemah dan pengangguran disinyalir akan lebih tinggi.
 
"Pesan The Fed keras dan jelas. Menaklukkan inflasi terbukti jauh lebih sulit dari yang diharapkan, dan mengejar tujuan itu kemungkinan akan datang dengan beberapa kerusakan tambahan," analis di J.P. Morgan dalam sebuah catatan.
 
Setelah menikmati keuntungan besar selama dua tahun terakhir, Wall Street telah diguncang pada tahun ini oleh kekhawatiran tentang sejumlah masalah termasuk konflik Ukraina, krisis energi di Eropa, wabah covid-19 di Tiongkok, dan kondisi keuangan yang semakin ketat di seluruh dunia.
 
(ANN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif