Ilustrasi. FOTO: AFP
Ilustrasi. FOTO: AFP

Dampak Ekonomi dari Keadaan Darurat Jepang Dinilai Tidak Besar

Angga Bratadharma • 15 Januari 2021 10:06
Singapura: Deklarasi keadaan darurat terbaru Jepang tampaknya tidak akan berdampak terlalu besar terhadap perekonomian di beberapa bagian negara Sakura itu. Sebelumnya, keadaan darurat diberlakukan seiring lonjakan kasus infeksi covid-19 dan imbasnya menghantam laju ekonomi.
 
"Dampak ekonomi dari tindakan yang diumumkan (keadaan darurat) akan lebih kecil dibandingkan dengan episode sebelumnya," kata Kepala Ekonomi Jepang Oxford Economics Shigeto Nagai, dilansir dari CNBC International, Jumat, 15 Januari 2021.
 
Dia merujuk pada keadaan darurat nasional Jepang yang diumumkan pada April 2020, pada hari-hari awal pandemi virus korona. Keadaan darurat saat itu berakhir pada akhir Mei. Keadaan darurat terbaru di Tokyo, Saitama, Chiba, dan Kanagawa hingga 7 Februari ini diumumkan oleh Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga pekan lalu.

Keputusan itu dalam upaya untuk memerangi lonjakan infeksi virus korona terbaru. Keadaan darurat diatur untuk diperluas ke lebih banyak daerah, dengan laporan media lokal bahwa Suga akan menambah tujuh prefektur lagi, termasuk Osaka.
 
Menurut data dari penyiar publik NHK, Jepang telah mencatat lebih dari 298 ribu infeksi covid-19 yang dikonfirmasi dengan setidaknya sebanyak 4.192 kematian akibat virus mematikan itu. Pemerintah Jepang terus berupaya memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang salah satunya mengumumkan keadaan darurat.
 
Nagai mengutip beberapa faktor untuk menjelaskan mengapa dampak ekonominya terbilang terbatas, termasuk pembatasan bisnis yang utamanya ditargetkan hanya di restoran dan bar di area dalam keadaan darurat. Sedangkan menurut pengumuman oleh Suga minggu lalu jam operasional tempat makan dan minum di daerah tersebut akan dipersingkat.
 
Orang-orang juga tidak disarankan untuk jalan-jalan setelah pukil 8 malam untuk alasan yang tidak penting dan tidak mendesak. Jumlah orang yang bepergian ke tempat kerja mereka juga akan berkurang 70 persen dan menggunakan daring.
 
Ekonom Senior Capital Economics Jepang Marcel Thieliant mengatakan pembatasannya sangat ringan dan sebagian besar memengaruhi makan di luar dan hiburan, yang bersama-sama menyumbang sekitar tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
 
"Mengingat keadaan darurat hanya akan berlangsung selama satu bulan, ekspansi ke wilayah Kansai tidak akan mengakibatkan hambatan lebih dari 0,1 persen dari PDB. Kami masih berpikir bahwa keadaan darurat akan diperpanjang secara nasional dan dibuat lebih ketat, dengan toko-toko dan restoran diminta untuk tutup sama sekali,” pungkas Thieliant.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ABD)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan